Tuesday, April 28, 2009

We're Always Need Some Change..


Salah satu hal yang tidak pernah berubah adalah perubahan. Begitulah sebuah kata menjelaskan mengenai ketakutan manusia akan sebuah titik kenyamanan.

Pertanyaannya: Apakah perubahan itu menjadikan kita lebih baik atau justru sebaliknya, hanya baik untuk orang lain. Tapi, bicara tentang perubahan juga tidak terus menerus hanya berada pada konteks pergantian umur ataupun kondisi alam, tapi juga tentang sebuah rentang dan bentang perubahan itu sendiri. Sebuah kejadian yang memberikan deretan frame tentang perubahan itu adalah ketika saya melihat sebuah komunitas di Facebook dengan nama “Lulusan SDN 009 Samarinda Tahun 1998”. Tunggu.. Memori langsung berlari sekencangnya ke masa itu. Topi merah, seragam putih, dan celana merah mini. Duduk lesehan seleksi masuk SD karena tak cukup umur, mencoba berhitung soal-soal lima tambah lima maupun sepuluh bagi dua. Soal yang sangat mudah sebenarnya, dan berakhir dengan penerimaan di kelas 1 C. Saya tertawa dan masih cukup mengingatnya..
Halaman komunitas itu lalu saya buka dan akhirnya menemukan tampilan list nama-nama masa lalu yang telah menanti untuk difiltrasi. Damn, segalanya telah berubah.. Mereka-mereka yang dahulu saya kenal akrab, sekarang telah mengubah diri mereka sesuai dunianya. Dunia mereka, bukan lagi dunia kita sewaktu dulu bersama. Ada yang hobi bertukaran kertas surat, sekarang sukses merambah ke dunia tentara, ada anak ingusan-tapi-preman berganti aksi menjadi pianis, ada yang dahulu pintar berubah menjadi terbelakang pasca kecelakaan, bahkan ada yang telah menanggalkan jubah dunianya. Itu realita. Tuhan selalu punya cara untuk tetap mempertahankan perubahan. Apakah perubahan itu harus disalahkan?
Nostalgia berlanjut dengan halaman foto yang menggambarkan ruang kelas kecil yang sederhana. Ruang dengan tegel tua yang konon dibangun di atas bekas kuburan Belanda. Saya heran juga, sejak kapan teknologi kamera telah populer dan membiarkan anak-anak SD ini narsis.. Haha.. Saya juga mengingat sebuah pelajaran berharga: Menjadi manusia itu jangan terlalu rajin. Kesimpulan ini diterjemahkan dari hukuman jewer yang diberikan guru olahraga pada setiap siswa yang mengerjakan LKS (Buku Kerja) hingga satu buku habis (dan saya termasuk di dalamnya). Ketahuan mengepalkan tangan di belakang kepala guru juga termasuk salah satu jiwa kekanak-kanakan yang pernah ada. Sungguh.. semua itu dulu pernah ada. Lalu kemanakah jiwa-jiwa itu pergi?
Berubaaah.. Seakan-akan perubahan itu bisa cepat terjadi seperti Ksatria Baja Hitam berganti kostum atau mungkin seiring setelan mood pada status anda. Tapi, benarkah diri kita berubah? Saya menganggap banyak sekali destinasi yang perlu dijamah untuk berubah sedikit demi sedikit untuk menjadi total berbeda. Perlu bermacam-macam pikiran untuk menstimulasi sikap dari yang tidak pernah menjadi pernah atau bahkan dari yang jijik menjadi terbiasa. Yang pasti, perubahan di sekitar kita itu akan selalu ada... dan orang yang bahagia adalah orang yang tidak pernah marah akan perubahan, melainkan orang yang telah mempersiapkan sikap untuk menemui perubahan tersebut.

Oiya, sekolah ini sekarang juga telah berubah brand menjadi SDN 007 Samarinda. Our beloved 009 was changed to James Bond 007 School... Yeah, that’s cool... Or just dull?

Thursday, April 09, 2009

Quick Count Party


Pemilu.. Pesta negara 5 tahunan. Jika dilewatkan, menyerahkan nasib negara apa adanya, namun jika memilih juga semakin membingungkan karena pilihan semakin beragam..

Pemilu 2004 menjadi pemilu pertama saya untuk ikutan prosesi ritual kenegaraan seperti ini. Meskipun masih sistem nyoblos gitu.. Tapi, yah itu sudah cukup ngerasain deh gimana rasanya ikut pemilu. Sewaktu itu, saya belum ngerti banget-banget siapa saja partai yang kompeten untuk dijadikan sebagai pilihan. Jadi, pilih saja yang kira-kira berlogo bagus. Hehe.. (Dan akhirnya juga, 1 suara saya tidak berpengaruh banyak sama hasil akhirnya). Tapi, sudahlah, yang lalu menjadi memori saja.
Tahun 2009, pesta negara ini terlihat lebih meriah. Iklan televisi makin bombastis, berebut jam tayang di stasiun televisi nasional, ada yang mengetengahkan konsep-konsep faktual dengan data-data yang kompeten hingga konsep dangdut yang lebih merakyat. Belum lagi hadirnya baliho-baliho dengan efek narsisme wajah-wajah caleg yang makin leluasa berebut kursi, semakin membuat pesta ini berlangsung seperti ajang idola. Tentunya dengan perkiraan dana kampanye yang berjumlah hingga menyentuh 10 digit rupiah. Ugh.. Jumlah yang besar (dan memang juga diikuti dengan ambisi yang besar pula.. Hehe).
Tahun ini juga saya berada di Jogja. Ingin merasakan juga sensasi ‘celup kelingking’ lagi untuk turut berpartisipasi. Namun, ternyata prosedur mutasi-mutasi serta sosialisasi yang gak pernah terkomunikasikan dengan baik membuat saya menjadi ‘ilfil’ untuk berusaha mencari cara memilih. Huahh.. sudahlah, saya menjadi skeptis tentang tujuan pemilu itu sendiri. Jika berbicara tentang pemilu, pasti lebih seru ketika melihat proses penghitungan suara, Nah, sekarang sudah ada lembaga-lembaga survei yang menghitung secara cepat atau yang disebut Quick Count. Tv One dan Metro TV menjadi dua stasiun TV dengan label “TV Pemilu” maupun “Election Channel”. Sungguh mengejutkan kedua stasiun tersebut berebut atensi melalui dua lembaga survei yang berbeda dan dengan update yang konsisten. Mari kita bandingkan satu persatu.

Display Peringkat
TvOne tampil mengejutkan dengan display peringkat partai yang lebih baik, dari segi warna maupun posisi penyusunan. Sementara Metro TV lebih kecil dan lebih buram dalam pemilihan warna maupun fontase.

Update Presentase
Masing-masing stasiun TV selalu update dalam menyajikan data-data secara konsisten, namun dalam hal tercepat, TvOne lebih unggul dalam mencuri start penghitungan. (Meskipun saya sendiri masih awam dalam hal keakuratan data).

Analisis Pakar
Dari TvOne, beberapa pakar sangat antusias dalam mengkritik persiapan-persiapan KPU maupun analisis tentang pengaruh dominasi partai-partai yang memimpin peringkat. Salah satunya adalah dari pihak Charta Politika dan pastinya Effendi Ghazali yang memberikan opini-opini menarik. Dari Metro Tv juga tidak kalah seru, hadir pengamat-pengamat dari beragam bidang, bahkan pakar dari luar kota.

Host
Tidak bisa dipungkiri, bahwa presenter Metro TV lebih unggul dari cara penyampaian, bahasa yang dipergunakan, serta jam terbang. Najwa Shihab tetap menjadi anchorwoman yang handal.

Konsep Acara
Metro TV lebih baik dengan menjadikan ajang Pemilu ini dengan mengemasnya lebih professional dan eksklusif dibandingkan dengan konsep TvOne yang berteriak-teriak seperti menantikan idola baru, bukan pemimpin negara baru.

Dari keseluruhan, TvOne menurut saya cukup pintar dalam menyajikan data-data peringkat lebih cepat dibandingkan stasiun televisi lain ditambah lagi dengan dialog oleh Effendi Ghazali yang santai namun tetap berkualitas. Sedangkan Metro TV menunjukkan professionalitas yang tinggi dalam memaparkan analisa-analisa terkait peringkat partai dan kemasan acara yang lebih eksklusif berkat penampilan studio yang mengagumkan. Keduanya dapat mempertahankan labelnya masing-masing. Meskipun, event pemilunya sendiri dipenuhi kasus DPT berantakan, money politic, hingga adanya intimidasi-intimidasi.

Semoga pemilihan presiden nanti, saya diikutkan.. Hehehe