Saturday, November 15, 2008

Traveling Oh.. Traveling: Part Two


Setelah ngobrol dikit soal airport di bagian sebelumnya, mungkin kali ini tentang traveling sebagai bagian dari seni.

Saya pernah melihat sebuah film true story berjudul “Into The Wild” yang diperankan oleh salah satu aktor favorit saya, Emile Hirsch. Semenjak ia memerankan sosok Alexander Supertramp, kelas aktingnya meningkat tajam. Kisahnya sendiri mengenai seorang mahasiswa yang menggapai tujuan hidupnya dengan menelusuri berbagai tempat sebagai backpacker. Unsur alam, kultur, romansa, survive, dan kesendirian menjadi tema sentral yang pasti dicintai oleh para petualang. Dari film ini, saya jadi mengartikan traveling yang sebenarnya adalah melakukan sebuah perjalanan untuk pencarian makna. Dan untuk itu, saya jadi merasa butuh jam terbang lebih banyak untuk mendapatkan pengalaman traveling yang sebenarnya.
Meski referensi traveling masih terhitung jari, saya pernah berkesempatan untuk mengunjungi beberapa tempat yang memiliki makna tersendiri. Salah satu tempat yang memiliki ciri bermakna biasanya adalah tempat-tempat yang kadar eksotisnya luar biasa, namun banyak orang yang belum mengerti di mana letaknya. Pada awal-awal kuliah adalah masanya touring time karena jaman-jaman dahulu seringkali ke luar kota untuk menelusuri beberapa eksotika tersembunyi. Well, perjalanan pertama seingat saya adalah mengunjungi Gua Seplawan di daerah perbatasan Wates dan Purworejo. Seninya justru berada dalam perjalannya. Sewaktu itu touring menggunakan 3 motor dan beranggotakan 6 wisatawan. Hehehe.. Daerahnya cukup terpencil, sehingga jalannya masih tak beraspal dan Ninja Hattori banget! Alias mendaki gunung, lewati lembah. Pada satu titik, tanjakannya cukup tinggi, sehingga teman saya yang berbadan besar terpaksa harus turun karena motornya tidak bergerak-gerak setelah digas. Hehehe.. Kalo saya sih masih asik bertahan di atas jok, meskipun jalannya ala siput imut-imut. Kalo nyasar sih mungkin sudah makanan sehari-hari dan tentunya akan lebih terasa suasana travelingnya ketika telah sampai di tujuan. Nah, Gua Seplawan itu sebenarnya biasa-biasa aja. Namun, karena saya juga tidak terlalu mengerti dunia perguaan, jadi mungkin omongan saya salah. Di dalam gua, seperti gua-gua lainnya, terasa gelap, berstalaktit dan stalakmit, berair, dan licin. Ya iyalah, gua gitu loh! Tapi, gua yang satu ini airnya cukup dalam yaitu setumit, sehingga cukup basah jika nyebur. Nah, berhubung dari dulu insektaphobia, ketika ada laba-laba menyebrang air, seketika saya loncat-loncat dan berteriak di dalam gua dan menggaung. Hehehe... Setelah itu kami langsung mengurung niat buat masuk lebih dalam, karena mungkin akan ada tarantula, anaconda, ataupun buaya pemakan manusia.
Perjalanan lainnya adalah menuju Gunung Kidul. Ada apa di sana? Anda mungkin tahu film “Biola Tak Berdawai” yang dibintangi oleh Nicolas Saputra. Nah, ada scene pantai yang mengambil setting di salah satu kompleks pantai Gunung Kidul. Nama pantainya adalah Pantai Sundak. Saya heran kenapa menamainya dengan Sundak. Sundakelapa atau Sundakbolong? Ahh.. entahlah, tapi foto pantai ini di friendster saya sering disangka berada di Bali. Well, kalau yang ini sungguh eksotis, belum terlalu dipublikasikan, masih alami, pasir putih, dan belum ada listrik! Yap, itu sesuatu yang di luar dugaan sebelumnya. Perjalanan ke pantai tersebut memang dalam rangka menyelesaikan tugas shooting film pendek. Karena suasananya yang bikin betah, akhirnya semua crew baru menghidupkan kendaraan untuk pulang sekitar pukul 17.45 senja. Kita akhirnya sadar ternyata kanan-kiri hutan dan sama sekali tidak ada penerangan, hanya ada lampu sorot kendaraan. Hii.. spooky juga! Nah, ditambah lagi, saya dengan isengnya bermain kamera dan menangkap sebuah penampakan di sisi jalan. Sedikit tips: Daerah Gunung Kidul emang masih menyimpan mistis. So, kalo gak berani-berani amat, mending bawa aja paranormal untuk membantu kenyamanan traveling anda. Hehe..
Seni melakukan perjalanan juga bisa dilakukan di tempat-tempat eksotis ala urban, dimana anda dapat mencoba tempat-tempat hiburan baru secara premier sehingga anda menjadi sumber info bagi calon wisatawan yang lain. Salah satu traveling yang sebenarnya menggunakan sedikit adrenalin beberapa bulan lalu adalah mengunjungi Pandawa Water World. Kali ini road trip melintasi Klaten dengan membawa pasukan 2 mobil menuju Solo. Di perjalanan, pasti berasa kaya pernah liat nuansa sawah dan pepohonan seperti di filmnya Nicolas Saputra (again!), “3 Hari Untuk Selamanya”. Humm, benar-benar rindang dan damai. Well, Pandawa Water World sendiri terletak di Solo Baru, di tengah-tengah perumahan elit dan kurang lebih memakan waktu 2 jam dari Jogja. Gak nyangka, ternyata Solo lebih duluan punya Water Park dibanding Jogja. Dengan entry ticket yang relatif murah pada hari Senin, yaitu IDR 35.000 plus biaya loker IDR 5.000, anda sudah bebas masuk menikmati semua wahana (terkecuali bungee jumping, soalnya ada fee tersendiri!). Ketika memasuki pintu masuk, hal pertama yang terlihat adalah security check. Yap, gak boleh bawa minuman, makanan, ataupun gayung! (ya iyalah, emang mau mandi..). Tapi gak usah khawatir, di dalam udah tersedia puluhan foodcourt yang siap menyumbat rasa lapar ketika selesai berenang. Wahana-wahana yang sempet dicoba bener-bener seru. Mulai dari Kresna Wave Pool yang bikin kita goyang, Pool Slide yang bikin tenggorokan serak, atau juga Cave Corner yang enak buat tidur. Tapi, dari segala wahana yang sempat dicoba, yang menjadi primadona adalah Volcano Pool. Konsepnya tuh sama kaya jacuzzi. It’s soooooo relaxed away, anyone... Hehe.. Buat yang ke sana tapi gak niat renang juga disediakan fasilitas hot spot untuk browsing internet. Yang pasti suasana internetan bakal lebih eksotis karena ditunjang dengan pemandangan bikini-bikini ataupun speedo. ;)

Teori Teddiouzz Today
Traveling adalah bagian dari seni. Bagian dari memanjakan diri, menemukan sebuah inspirasi, dan sekaligus mampu menafsirkan apa yang terlihat dengan bijak. Perbedaan kultur ditangkap dengan pikiran terbuka. Hambatan dalam perjalanan disikapi dengan canda. Perbedaan rencana dengan apa yang terjadi akan membuahkan cerita yang tak terisolasi dari memori. Disanalah sebenarnya letak seni. Not such a tour package activities, but more to discover and explore something new..