Tuesday, August 11, 2009

How to ENjoy Jakarta in 10 Days (Part 3)

Day 3: Hot snow day at the bay..
Snowbay.. Is it bay with a snow??

Sebelumnya maaf kalo postingannya baru bisa sekarang. Many job to finished! GHehe.. Di hari ketiga, kita sudah ada di Bogor. Bogor yang sekarang gak pakai hujan tuh. Mungkin julukannya harus ganti, kota angkot. Soalnya angkot merajalela. Hehe.. Dari Bogor, kita balik lagi ke arah tol untuk menuju Snowbay..

Well, travelling di sebuah kota gak lengkap juga kalau gak kunjungin wisata modernnya. Pengen juga nyobain another waterzone di kota tersebut apalagi sekarang setiap kota di Indonesia seakan berlomba-lomba untuk memiliki waterzone terbaik. Salah satu yang berada di Jakarta yaitu Snowbay yang terletak di dalam TMII. Tempatnya tergolong baru, makanya ada beberapa wahana yang masih dalam tahap pembuatan. Tapi, gak nyesel juga kok, soalnya juga dapet promo buy 1 get 1 via Mandiri debitcard selama musim liburan. Kalau harga tiket normalnya sih IDR 100k. Begitu masuk, kita akan menuruni tangga dan seperti biasa.. Menemukan petugas loker! Namun, loker tidak dipisah antara wanita dan pria. Yang dipisah adalah kamar ganti dan kamar mandinya. Kamar mandinyapun disediakan dengan versi beragam. Ada yang bernuansa alam terbuka dengan bebatuan (Konon mirip Waterboom Bali), ada juga yang tertutup rapat, dan khusus toilet. Nah, wahananya kira-kira yang sudah jadi lebih dari 10. Terdiri dari wahana dewasa, wahana anak, dan tentu wahana semua usia. Untuk wahana anak, saya gak usah coba deh, ntar emak-emak pada naksir lagi.. Hehe. Wahana yang menurut saya daya adrenalinnya paling tinggi yaitu Flush bowl, dimana kita diluncurkan terbaring tanpa ban dari tempat teratas wahana dan meluncur seperti bensin yang mengalir pada sebuah corong. Sampai di sebuah corong, kita akan berputar-putar dan akhirnya jatuh ke sebuah lubang yang memiliki kedalaman 2,5 meter... And I can’t swim!! Gosh, sebenernya waktu itu udah tahan napas, tapi perasaan kok lama banget ya diangkatnya. Huah, tapi cukup mendebarkan juga. Hehe..

Selanjutnya wahana yang cocok buat seru-seruan yaitu Twister. Wahana ini punya penggemar banyak sehingga gak tanggung-tanggung kalo mesti ngantri selama setengah jam sampai sejam karena wahana ini ternyata punya jam istirahat.

Di wahana ini, kita memakai ban bundar yang berpenumpang genap (2 atau 4). Prosesnya yaitu kita bakal ngelewatin corong yang gelap dengan aliran tenang, hingga waktu itu saya cuma bilang, “Hah, kaya gini aja?”. Tapi ternyata, wahana ini memberi kejutan dengan tinkungan pipa yang tajam sehingga kita akan meluncur dengan cepatnya menuju mangkok besar dan naik turun membentuk arah seperti bentuk bumerang. Berhubung para traveller di ban badannya gak kalah gede dari mangkoknya, tekanan gravitasipun semakin tinggi dan semakin tinggi pula kita melayang miring.. Hehe.. Seru!! Wahana lain yang boleh dicoba, meskipun sebenarnya di waterzone lain juga ada yaitu kolam arus dan kolam ombak. Cukup menyenangkan meskipun sudah pernah. Wahana yang not recommended mungkin kolam uap atau jacuzzi tapi dengan air dingin. Huah, not goin to be relaxed anyway..

This is gonna be a nice day, meski ternyata harus mengorbankan kulit cerah kita. Bahkan, sunblock dari dokterpun belum cukup mempan dengan matahari jam 12siang. Hoho!

[to be continue..]

Friday, July 10, 2009

How to ENjoy Jakarta in 10 Days (Part Two)

Kota Tua? Pasti kota ini sudah sakit-sakitan.. Perlu beli obat pastinya biar terlihat muda kembali..


Day 2: This is the Old Town
Kota Tua... Pertama kali denger dulu ketika Pak Bondan Winarno memperkenalkan Soto Tangkar di daerah sana. Menuju daerah Kota ternyata macet dan macett.. (Yeah, gak boleh ngeluh soal macet di Jakarta.. It’s so normal!). Di kawasan itu, ternyata juga sering digunakan untuk sesi pemotretan model ataupun foto pra-wedding. Terbukti, banyak sekali gaun-gaun pengantin yang berseliweran dengan fotografer-fotografer yang sibuk dengan asisten yang jinjing tripod. Atau mungkin juga cuma pas lagi bulan Juli yang notabene terkenal dengan musim kawin. Hehe.. Selain sesi foto-foto, kita juga sempet beli es potong dengan kocek 2k, plus sewa sepeda tua seharga 20k untuk satu jam. Satu fakta unik, ternyata itu sepeda gak pake rem. Serem juga tuh, genjotnya harus pelan-pelan. Di kota tua juga bertemu dengan temen-temen dari Jogja, Isa & Ian. Mereka emang sengaja ngajak ketemuan di sini. Bisa disebut juga, this is the rendevouz time!


Gak cuma itu, ternyata ST12 juga lagi shooting untuk videoklip barunya di Cafe Batavia, sedangkan acara Koper & Ransel yang dipandu oleh seorang bule -whosoeva- juga lagi ambil gambar. Quite interesting, meski akhirnya ketika jalan pulang, mobil disrempet om-om Chinese Glodok yang gak jelas.. Alhasil, lampu mobil jadi salah urat dah.. Huff!


But, where we have to go next: Yes, it’s time to migration.. Bogor, here we come..

[To be continue..]

Thursday, July 09, 2009

How to ENjoy Jakarta in 10 Days (Part One)

I think, Jakarta as our capital city is not so big enough.. The only big is the pollution and dirty river.. Ehm, and also Harvey Nichols! Haha...


Day 1: Jakarta Fair 2009
Garis besarnya: It’s not the HOLIDAY! Liburan kok ke Jakarta... That must be the worst holiday! So, it’s just a trip for havin’ fun!! Haha... Partner kali ini yaitu Agus, Intan, Aline, dan Titi. Tiba di Pasar Senen, Jakarta sekitar pukul 04.30am via Business Class Train (dan baru ngerti kalo embel2 “kelas bisnis”nya sama sekali gak beralasan!!). Banyak yang minta-minta, banyak yang jualan, banyak yang tidur di lantai cuma modal bayar 30k.. So crowd dan secara sukses menggagalkan tidur nyenyak selama di gerbong no. 6 malam itu. Well, sampai basecamp sekitar Sunter, baru lengket dah sama bantal.. Zzz...


Siangnya, this is the first spot to go... PRJ!! Pekan Raya Jakarta atau yang biasa juga dikenal Jakarta Fair.. Berhubung gak ngerti skejul, akhirnya sukses juga nyampe dengan titel: KEPAGIAN! Emang sih pintu parkir udah dibuka dan udah ada segelintir orang yang nangkring, tapi kalo dipikir-pikir musti killing time satu jam.. Huff! Tapi ternyata ada gunanya juga dateng awal. Belasan menit kemudian, tiba-tiba pengunjung yang siap ngantri membludak. Pukul 03.30pm, tiket per orang 15k berbentuk magnetic card dengan logo Bank Mandiri udah di tangan. Siap masuki alam venue super-luas..
Venue JakFair terbagi dalam beberapa hall indoor dan hall outdoor. Beberapa branded otomotif, instant food, dan fashion lebih banyak di outdoor. Sedangkan telekomunikasi, elektronik, local participant lebih banyak di indoor. Salah satu stand favorit adalah The Body Shop yang lagi SALE shower gel sampai 50%. Tapi sialnya, shampoo plus conditioner yang biasanya saya pakai harganya masih stabil. Huehehe... (Ketauan deh sale-minded.. Haha!!). Sayangnya lagi, kebanyakan brand jual barang stok lama.. (Atau berhubung ini the last days yaah?? Jadi udah barang sisa??!).


Humm, gak lupa juga nih disini ngerasin juga gimana rasanya Kerak Telor yang termahsyur di teve swasta nasional kita kalo menjelang HUT Jakarta.. One tips: Lebih enak kerak telor bebek dibanding kerak telor ayam.. Harganya?? SAMA keduanya. Dari siang sampai isya, betis udah berubah keker jalan kesana-kemari. Pulangnya, sempet nyasar juga nyari mobil di parkiran yang udah gak jelas kiblatnya. Hehehe..


Teori Teddiouzz Today
Well, Jakfair is damn wide! Laen kali mungkn skalian bawa training pants buat skalian jogging di sana.. Haha..

[To be continue..]

Tuesday, April 28, 2009

We're Always Need Some Change..


Salah satu hal yang tidak pernah berubah adalah perubahan. Begitulah sebuah kata menjelaskan mengenai ketakutan manusia akan sebuah titik kenyamanan.

Pertanyaannya: Apakah perubahan itu menjadikan kita lebih baik atau justru sebaliknya, hanya baik untuk orang lain. Tapi, bicara tentang perubahan juga tidak terus menerus hanya berada pada konteks pergantian umur ataupun kondisi alam, tapi juga tentang sebuah rentang dan bentang perubahan itu sendiri. Sebuah kejadian yang memberikan deretan frame tentang perubahan itu adalah ketika saya melihat sebuah komunitas di Facebook dengan nama “Lulusan SDN 009 Samarinda Tahun 1998”. Tunggu.. Memori langsung berlari sekencangnya ke masa itu. Topi merah, seragam putih, dan celana merah mini. Duduk lesehan seleksi masuk SD karena tak cukup umur, mencoba berhitung soal-soal lima tambah lima maupun sepuluh bagi dua. Soal yang sangat mudah sebenarnya, dan berakhir dengan penerimaan di kelas 1 C. Saya tertawa dan masih cukup mengingatnya..
Halaman komunitas itu lalu saya buka dan akhirnya menemukan tampilan list nama-nama masa lalu yang telah menanti untuk difiltrasi. Damn, segalanya telah berubah.. Mereka-mereka yang dahulu saya kenal akrab, sekarang telah mengubah diri mereka sesuai dunianya. Dunia mereka, bukan lagi dunia kita sewaktu dulu bersama. Ada yang hobi bertukaran kertas surat, sekarang sukses merambah ke dunia tentara, ada anak ingusan-tapi-preman berganti aksi menjadi pianis, ada yang dahulu pintar berubah menjadi terbelakang pasca kecelakaan, bahkan ada yang telah menanggalkan jubah dunianya. Itu realita. Tuhan selalu punya cara untuk tetap mempertahankan perubahan. Apakah perubahan itu harus disalahkan?
Nostalgia berlanjut dengan halaman foto yang menggambarkan ruang kelas kecil yang sederhana. Ruang dengan tegel tua yang konon dibangun di atas bekas kuburan Belanda. Saya heran juga, sejak kapan teknologi kamera telah populer dan membiarkan anak-anak SD ini narsis.. Haha.. Saya juga mengingat sebuah pelajaran berharga: Menjadi manusia itu jangan terlalu rajin. Kesimpulan ini diterjemahkan dari hukuman jewer yang diberikan guru olahraga pada setiap siswa yang mengerjakan LKS (Buku Kerja) hingga satu buku habis (dan saya termasuk di dalamnya). Ketahuan mengepalkan tangan di belakang kepala guru juga termasuk salah satu jiwa kekanak-kanakan yang pernah ada. Sungguh.. semua itu dulu pernah ada. Lalu kemanakah jiwa-jiwa itu pergi?
Berubaaah.. Seakan-akan perubahan itu bisa cepat terjadi seperti Ksatria Baja Hitam berganti kostum atau mungkin seiring setelan mood pada status anda. Tapi, benarkah diri kita berubah? Saya menganggap banyak sekali destinasi yang perlu dijamah untuk berubah sedikit demi sedikit untuk menjadi total berbeda. Perlu bermacam-macam pikiran untuk menstimulasi sikap dari yang tidak pernah menjadi pernah atau bahkan dari yang jijik menjadi terbiasa. Yang pasti, perubahan di sekitar kita itu akan selalu ada... dan orang yang bahagia adalah orang yang tidak pernah marah akan perubahan, melainkan orang yang telah mempersiapkan sikap untuk menemui perubahan tersebut.

Oiya, sekolah ini sekarang juga telah berubah brand menjadi SDN 007 Samarinda. Our beloved 009 was changed to James Bond 007 School... Yeah, that’s cool... Or just dull?

Thursday, April 09, 2009

Quick Count Party


Pemilu.. Pesta negara 5 tahunan. Jika dilewatkan, menyerahkan nasib negara apa adanya, namun jika memilih juga semakin membingungkan karena pilihan semakin beragam..

Pemilu 2004 menjadi pemilu pertama saya untuk ikutan prosesi ritual kenegaraan seperti ini. Meskipun masih sistem nyoblos gitu.. Tapi, yah itu sudah cukup ngerasain deh gimana rasanya ikut pemilu. Sewaktu itu, saya belum ngerti banget-banget siapa saja partai yang kompeten untuk dijadikan sebagai pilihan. Jadi, pilih saja yang kira-kira berlogo bagus. Hehe.. (Dan akhirnya juga, 1 suara saya tidak berpengaruh banyak sama hasil akhirnya). Tapi, sudahlah, yang lalu menjadi memori saja.
Tahun 2009, pesta negara ini terlihat lebih meriah. Iklan televisi makin bombastis, berebut jam tayang di stasiun televisi nasional, ada yang mengetengahkan konsep-konsep faktual dengan data-data yang kompeten hingga konsep dangdut yang lebih merakyat. Belum lagi hadirnya baliho-baliho dengan efek narsisme wajah-wajah caleg yang makin leluasa berebut kursi, semakin membuat pesta ini berlangsung seperti ajang idola. Tentunya dengan perkiraan dana kampanye yang berjumlah hingga menyentuh 10 digit rupiah. Ugh.. Jumlah yang besar (dan memang juga diikuti dengan ambisi yang besar pula.. Hehe).
Tahun ini juga saya berada di Jogja. Ingin merasakan juga sensasi ‘celup kelingking’ lagi untuk turut berpartisipasi. Namun, ternyata prosedur mutasi-mutasi serta sosialisasi yang gak pernah terkomunikasikan dengan baik membuat saya menjadi ‘ilfil’ untuk berusaha mencari cara memilih. Huahh.. sudahlah, saya menjadi skeptis tentang tujuan pemilu itu sendiri. Jika berbicara tentang pemilu, pasti lebih seru ketika melihat proses penghitungan suara, Nah, sekarang sudah ada lembaga-lembaga survei yang menghitung secara cepat atau yang disebut Quick Count. Tv One dan Metro TV menjadi dua stasiun TV dengan label “TV Pemilu” maupun “Election Channel”. Sungguh mengejutkan kedua stasiun tersebut berebut atensi melalui dua lembaga survei yang berbeda dan dengan update yang konsisten. Mari kita bandingkan satu persatu.

Display Peringkat
TvOne tampil mengejutkan dengan display peringkat partai yang lebih baik, dari segi warna maupun posisi penyusunan. Sementara Metro TV lebih kecil dan lebih buram dalam pemilihan warna maupun fontase.

Update Presentase
Masing-masing stasiun TV selalu update dalam menyajikan data-data secara konsisten, namun dalam hal tercepat, TvOne lebih unggul dalam mencuri start penghitungan. (Meskipun saya sendiri masih awam dalam hal keakuratan data).

Analisis Pakar
Dari TvOne, beberapa pakar sangat antusias dalam mengkritik persiapan-persiapan KPU maupun analisis tentang pengaruh dominasi partai-partai yang memimpin peringkat. Salah satunya adalah dari pihak Charta Politika dan pastinya Effendi Ghazali yang memberikan opini-opini menarik. Dari Metro Tv juga tidak kalah seru, hadir pengamat-pengamat dari beragam bidang, bahkan pakar dari luar kota.

Host
Tidak bisa dipungkiri, bahwa presenter Metro TV lebih unggul dari cara penyampaian, bahasa yang dipergunakan, serta jam terbang. Najwa Shihab tetap menjadi anchorwoman yang handal.

Konsep Acara
Metro TV lebih baik dengan menjadikan ajang Pemilu ini dengan mengemasnya lebih professional dan eksklusif dibandingkan dengan konsep TvOne yang berteriak-teriak seperti menantikan idola baru, bukan pemimpin negara baru.

Dari keseluruhan, TvOne menurut saya cukup pintar dalam menyajikan data-data peringkat lebih cepat dibandingkan stasiun televisi lain ditambah lagi dengan dialog oleh Effendi Ghazali yang santai namun tetap berkualitas. Sedangkan Metro TV menunjukkan professionalitas yang tinggi dalam memaparkan analisa-analisa terkait peringkat partai dan kemasan acara yang lebih eksklusif berkat penampilan studio yang mengagumkan. Keduanya dapat mempertahankan labelnya masing-masing. Meskipun, event pemilunya sendiri dipenuhi kasus DPT berantakan, money politic, hingga adanya intimidasi-intimidasi.

Semoga pemilihan presiden nanti, saya diikutkan.. Hehehe