Friday, October 03, 2008

Lebaran No Salesman

Teddiouzz mengucapkan,
“Selamat Merayakan Idul Fitri 1429 H! Minal Aidin Walfaidzin. Dimulai dari angka nol lagi ya?”. Hehe..

Lebaran tahun ini, mungkin saya lebih bersyukur karena dapat merayakannya di Samarinda. Bukan masalah saya lebaran dengan siapa, tapi lebaran di Mount Island pasti mau-harus-mau bakalan sungkem ala salesman. Yaitu door to door dan hand to hand (Hallah!). Meskipun saya juga banyak mendapat doa dari tetua, tapi tetap saja kegiatan tersebut saya nilai sedikit ribet. Hehe.. Di sini, ritual tersebut mengalami sedikit modifikasi (tapi lebih efisien!) sehingga perayaan lebaran lebih bisa dinikmati. Nah, berhubung masih dalam kawasan perusahaan, jadi acara halal bihalal diadain di sebuah ballroom. Semua warga perusahaan numplek jadi satu dah di sana. Mulai dari pimpinan, staff, anak-anak. Trus, semua orang mulai baris-berbaris ngantri salaman mirip nikahan. Simpel kan? Udah gitu, semua orang juga PASTI makan hidangan yang disajiin. Gak perlu ada alasan udah kenyang makan di rumah sapalah dan tentunya gak perlu jadi salesman lagi. Hehe..
Meski sedikit ngerasa kehilangan momen-momen piring kotor di rumah, tapi hal itu bisa sedikit ditolerir kok dengan menjadi spesies kanibal seketika sehingga bak cucian merasa berguna bagi dapur dan bangsa. Hehe.. Well, tapi ada benernya juga dengan semua mitos yang sering diucapkan orang-orang bahwa lebaran di rumah dengan masakan ala mama memang terasa lebih spesial. Gak perlu masakan Itali, Perancis, Jepang, atau ala bangsa Macedonia dengan seribu macam rempah-rempah, tapi cukup opor ayam, ketupat, dan sambal terasi tapi dengan sensasi yang tiada henti. Humm.. Ajiip!
Seperti tahun lalu, lebaran kali ini juga dibanjiri dengan SMS “minta maaf” bertubi-tubi. Mungkin karena niat banget (atau operator error! Hehe..), SMS yang sampai tidak hanya sekali, namun ada yang hingga tiga kali. Terima kasih atas partisipasinya tahun ini dalam mengikuti ajang Inbox Awards 2008 yang akan diumumkan pertengahan Oktober nanti. Tercatat 70 SMS telah masuk ke meja penjurian. Siapakah yang berhasil menyandang predikat SMS Of The Year? Harap bersabar hingga pengumuman nanti. Hehe..

Teori Teddiouzz Today
Seperti kata di salah satu iklan A Mild, maafin itu gampang, jadi gampang juga buat kesalahan. Well, bener juga disambungin ke logika. Tapi, kalo misal disuruh milih lebih gampang bikin salah atau gampang maafin? Ya, pastinya milih gampang maafin kan.. (Secara turunan malaikat. Haha!). Tapi, tentu saja maaf saya akan bersyarat. Syaratnya adalah: ketika yang salah telah menyadari apa kesalahannya dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Deal kan??! Hehe.. Kalo bisa juga sih, tambah traktir bakso semangkok deh.. ;P


Thursday, September 25, 2008

Enjoy the Hot Culture

(Lirik lagu Gigi yang baru) Panas.. Panas.. Ku kebingungan, Dingin.. Dingin.. Ku kebingungan, Panas dingin ku sakit demam.. Hehe..

Seperti yang telah dipertanyakan di posting yang lalu, kali ini saya akan mencoba mengungkap jawabannya. Apakah yang telah berubah di Samarinda? Satu hal berupa petunjuknya adalah fakta bahwa Samarinda telah membangun peradaban baru semacam kultur panas alias hot culture. Dimana-mana panas. Tidak hanya di jalan raya namun juga berbagai sentra perbelanjaan. Mengapa demikian? Mari kita jabarkan satu-persatu:
Samarinda, sebagai kota yang gak jauh banget sama garis katulistiwa, pastilah bercuaca panas. Berada di bawah sinar matahari dalam jangka panjang pasti serasa dipanggang. Huff.. sensasi panas yang satu ini membuat kepala geleng-geleng karena tidak bisa dipungkiri lagi bahwa bumi memang semakin panas akibat efek global warming. Nah, cuaca panas satu ini membawa penduduk Samarinda memiliki pola pikir unik dalam hal transportasi. Faktanya, mayoritas orang lebih baik memiliki mobil dibandingkan memiliki rumah mewah. Jadi, jangan heran ketika anda memasuki sebuah kompleks perumahan sangat sederhana sekali, anda akan menemukan OPEL Blazer ataupun sekedar Honda Jazz. Hehe..
Hal seperti ini sebenarnya menambah daftar panjang kebenaran tentang kultur panas itu sendiri dimana volume kendaraan bermotor meningkat, asap dimana-mana, sehingga jalanan lebarpun mudah macet hitungan kilometer. Huff, siapa sih yang punya ide mindahin Jakarta ke sini? Hehe.. Uhm, bahkan yang menaiki kendaraan roda dua dengan pedenya mengibarkan payung di tengah jalan (Whoa!!) karena panas terlampau merajalela. Nah, menurut beberapa penelitian, konon sebuah negara atau kota dengan cuaca panas akan meningkatkan emosi masyarakatnya pula. Sebagai bukti, mungkin anda pernah lihat iklan Pertamina di televisi? Yup, anda pasti sangat senang mengisi bensin di SPBU berlabel “PASTI PAS” dimana petugasnya ramah dan memperlihatkan angka 0 ketika memulai pengisian. Well, anda tidak akan menemukannya di sini! Bukan karena di sini gak ada SPBUnya, tapi memang kultur panas membuat pelayanan di kota ini terbilang buruk. Bahkan salah satu petugasnya seneng-seneng main ponsel di area pengisian, padahal tanda ponsel coret terpampang besar tepat di sebelahnya. Ironis bukan?
Kondisi pelayanan seperti itu juga dengan gampang ditemukan di area perbelanjaan. Bukan pasar, bukan toko grosiran, tapi di sebuah Levi’s store! Anda tidak akan mendapat sambutan apa-apa ketika masuk, bahkan anda serasa tidak mengetahui dimana petugasnya di tengah crowded yang ada. Maklum, Levi’s store di salah satu mall ini laris-manis padahal dengan harga yang lebih mahal sekitar 25% dari harga Jogja! Gak heran juga sih, mengingat pendapatan kota Samarinda saja miliaran. Anything can buy deh! Hehe.. Sayangnya, bagi saya, kota ini tetap saja masih belum lengkap. Nyari majalah DAMAN? a+? M2? Huaaaah.. Nyampe kiamat juga kayanya gak bakal dapet! Pengen Activia? Setelah beberapa hari menyisir dari supermarket satu ke yang lain, baru deh nemu! Begitu susahnya.. Untungnya saja, setelah berkeliling-keliling, saya melihat dua calon mall baru yang masih dalam proses pembangunan. Diantaranya, Samarinda Global City dan Plaza Mulia. Nah, rencananya bakalan ada Carrefour dan Starbucks di pusat kota dan Waterboom di pinggir sungai! (Whatt?!). Senang juga sih ngelihat Samarinda semakin berkembang dan memiliki spot-spot hiburan baru, tapi jika harus memangkas kawasan hijau? Yah, dengan bangga harus diakui pula bahwa kultur panas akan tetap eksis di tengah masyarakatnya.

Teori Teddiouzz Today
Kultur panas sendiri juga merambat pada segi individu yang panas. Jika anda menilai kesempurnaan fisik seseorang dilihat jenis warna kulit yang putih-sedikit/banyak-kuning, maka tidak ada salahnya jika anda berkunjung ke Samarinda. Ras Melayu, Dayak dan China terasimilasi menjadi sedemikian rupa sehingga bagi anda yang suka dengan orientalitas pastinya dengan gampang menemukan jodoh anda! (Promo apaan niih?!). Tapi karena kultur panas itu sendiri, jangan heran juga jika menemukan yang belang... Haha..

Wednesday, September 10, 2008

Berputar di Balikpapan


Berputar-putar sekitar kota Balikpapan, berasa wisata hati dari balik jendela taksi..

Hari ini memasuki hari puasa yang kesembilan dan saya juga telah dihampiri taksi tepat pukul 9 juga di depan kost untuk memulai perjalanan menuju Samarinda. Well, yup! this trip goin to be wellcome back to da hometown. Umm, Samarinda.. Apakah yang telah berubah di sana? Nah, sebelum ke bandara, pagi itu bela-belain deh mampir J.Co alhasil bujukan si Eva. Untungnya udah buka dan say hello to Oreology. Hehe.. Penerbangan kali ini didampingi oleh seorang wanita berwajah Putri Titian, tapi berbadan lumba-lumba.. Yup, kali ini Alin menjadi soulmate hingga nanti hinggap di Bandara Sepinggan. Takut juga sih ngelewatin trip bareng si Alin soalnya dia tuh gampang banget mual-muntah gak jelas. Yah, untungnya dia wanita yang penuh inisiatif dengan membawa bekal berupa plastic bag banyak!! Haha...
Sekilas di Bandara Adi Sutjipto yang telah direnovasi menjadi bertuliskan “Bandara Internasional” itu, saya ngamatin bookstore Periplus yang makin komplit aja. Salut dah! Harganya juga masih harga normal, bukan harga kejutan bandara. Tapi, masa kalo mau beli majalah impor harus ke bandara dulu.. Huaaah! “Penumpang pesawat Mandala RI348 tujuan Jogja – Balikpapan dipersilahkan untuk naik ke atas pesawat”. Waduuh, masak naik ke atas pesawat, udah beli tiket gini kan harusnya dapet seat di dalam pesawat. Hehe.. Di dalam pesawat jenis Airbus 319 yang sepertinya masih terlihat baru itu, saya jadi teringat tentang maskapai Emirat Airlines yang bangga mengumumkan penerbangan suksesnya dengan jumlah penumpang hampir 500 orang rute Dubai – Amerika menggunakan pesawat jenis Airbus 380. Humm, nih pesawat Airbus juga nih.. Kayanya bakalan sama comfort. Setelah beberapa lama lepas landas, anggapan itu musnah. Si Alin mendadak bisik-bisik, “Ted.. takuuut!”. Huahaha.. Sama! Well, entah kenapa dengan pesawat ini.. Tapi, terdengar bunyi seperti mesin macet atau juga getaran-gataran yang tidak wajar. Tapi, ya sudahlah.. kita coba ngelupain bayang-bayang tragedi 11 september di Amerika ataupun kecelakaan pesawat di bulan September lainnya.. Zzz.. Akhirnya kita sepakat memejamkan mata dengan menyatukan dua kepala. Ugh, so sweet ngeliat lumba-lumba bisa akrab ama manusia... Hehe..
Akhirnya, tibalah kita di bandara Sepinggan, Balikpapan. Dengan perbedaan waktu 1 jam dari Jogja, maka dengan ikhlas juga saya menambahkan waktu puasa. Hehe... Kali ini ternyata kita mutusin buat bareng lagi. Naik taksi bareng, tapi ntar si Alin turun nyampe rumah sepupunya di seputaran Balikpapan. Well, taksi airport di sini sekarang servisnya aneh banget. Ga niat gitu. Pertama, pas pesen taksi, petugasnya asik banget nelpon haha-hihi. Udah pesen, eh ada mas-mas yang bilang, “ Ke Samarinda mas?”, tapi mukanya muka malak. Padahal dia yang koordinir sopir-sopir. Hehe.. Eh, begitu dia bilang ke sopir-sopir, malah mereka pada lempar-lemparan. Huaaah.. Sempet nungguin sambil ngeliat adegan lempar-melempar itu sih, tapi sabar... (ato lebih tepatnya laper-gak ada tenaga buat ngomel. Haha). Satu hal yang pasti begitu keluar dari bandara, Balikpapan panassssssssh oii...
Alin ternyata gak ngerti alamat pasti sepupunya. What??!! Padahal dia udah pernah ke sana. Well, satu lagi manusia yang memiliki keterbatasan menghapal peta. Hehe.. Setelah si sopir yang mungkin rada kesel beberapa kali puter ulang taksi, akhirnya nemu juga rumah sepupu si Alin yang terletak di perbukitan (dan setelah rumah itu adalah jalan buntu!). Whoa.. Setelah say gudbye sama si lumba-lumba, giliran saya yang masih harus menempuh perjalanan sekitar kurang lebih 2 jam menuju Samarinda. Berita buruknya, jalanan metropolitan yang biasanya digunakan lagi rusak berat dan kalo lewat sana juga pasti macet. So, si sopir taksi tadi mengatakan akan menempuh jalur alternatif. Haa? Alternatif apaan niih? Jangan-jangan mau diculik.. Huakaka.. Tapi, pikiran itu mustahal bin mustahil karena ternyata kita melewati jalanan pantiran alias pantai pinggiran yang bener-benar kawasan hijau.. Humm, benar-benar banyak kelapa dan juga banyak pabrik!! Omong-omong soal pabrik, jadi inget kontes L-Men of the Year kemarin. Pantas saja Balikpapan dinilai juri sebagai salah satu kota yang memiliki kontestan terbaik dari segi kualitas badan ataupun otak, lah kotanya buruh.. Hehe.. Berhubung banyak pabrik, ternyata mobil-mobil di jalanan lebih banyak didominasi dengan kategori pick up atau mobil angkut. Mulai dari Ford, Range Roover, atau sampai Mitsubishi yang langsingpun juga ada. Bahkan, patroli polisi juga pake mobil jenis ini!! Hehe... Berasa seperti di daerah pedesaan Amrik.
Taksi terus berlari, bangunan pabrik terus berlalu, namun si sopir juga gak pake bicara. Lagi puasa mungkin jadi ngomongnya juga ikutan puasa?? Ato mungkin habis diputusin?? Well, setidaknya itu kesimpulan yang diambil gara-gara tape taksi didendangkan oleh lagu-lagu sendu ala ST12 dan sebangsanya.. Huaah, rasanya nyesel juga nih gak punya MP3 buat nyumbat telinga. Tapi, biar bagaimanapun selayaknya pelajaran PPKn dulu, kita harus hormatin kesedihan si sopir itu. Hehe.. Nah, lama-lama nih jalanan berubah jadi rimbun banget dan sempit, paling cuma ada satu dua rumah di kanan-kiri. Jadi lebih parno sambil ngebayangin perampokan di tengah-tengah utan. Tapi saya akhirnya lebih tenang karena menemukan sebuah spot rawa yang camera-catching dengan jembatannya. Sore hari dengan hamparan ilalang dan bukit yang indah beserta mini-danaunya asik banget buat maenan air. Hehe.. Tapi, mikir dua kali juga sih. Berhubung ini daerah terlantar, mungkin bakal ada ular air ataupun buaya lepas. Satu hal yang mengejutkan lagi, ada bengkel motor Honda di tengah utan gini.. Hahaha!
Setelah tertidur sebentar dan seketika terbangun, jendela taksi juga disuguhi dengan pemandangan tragis kecelakaan satu bis dengan satu motor. Humm, jadi lebih bersyukur kalo sampai detik ini, badan masih bisa sehat wal afiat dan tentunya bibir masih bisa tersenyum. Karena dari kejadian itu, pasti akan ada air mata-air mata yang terjatuhkan dan jiwa-jiwa yang tak siap ditinggalkan.

NB: Maaf tidak mengambil gambar satupun, karena memang kamera sedang dalam proses perbaikan! Hehe...

Monday, August 18, 2008

Bedu in Beskap!


Budaya Jawa adalah sebuah gambaran budaya dengan tingkat matematis yang sangat rumit. Pernahkah anda menghitung berapa kali anda akan bersalaman di pernikahan ala Jawa?

Saya dikejutkan dengan adanya berita undangan dari seorang sepupu saya di awal akhir Juli bahwa ia akan segera melangsungkan pernikahan tepat pada tanggal libur kemerdekaan. Well, sebuah momen kebahagiaan plus akibat nasionalisme yang terlalu tinggi bukan? Hehe.. Selain itu, mungkin juga lebih memudahkan untuk mengingat tanggal anniversary-nya nanti. Saya terkejut bukan karena tanggal yang dipilih adalah 17 Agustus, tapi sepupu saya itu berumur sama dengan saya! Telah lulus menjadi sarjana teknik UGM, predikat cumlaude, dan memiliki prospek karir yang cerah. Lantas kenapa harus cepat-cepat menikah? Selidik demi selidik, ternyata ia harus melanjutkan studi di Belanda bulan September nanti. Pfiiuh.. Rajin banget!
Maka, tanggal itu telah resmi menjadi sebuah saksi pernikahan sepupu saya sekaligus lahirnya cucu presiden SBY. Humm, really great day! Bagaimana dengan saya? Saya belum mendapat gelar sarjana, masih belom dapet jodoh, eeh... udah main ditagih saja sama beberapa famili, “Kapan nyusul?”. Bulan Mei. Meibe bareng Mei Chan, meibi meihek-meihek. Hehe.. Meskipun resepsi dilaksanakan hari ini, tanggal 18 Agustus, tapi nih badan dari kemarin sudah kemana-mana. Mulai dari jadi fotografer dadakan (Kali ini pakai DSLR Nikon milik Adit, sepupu dari Palembang!), atau jadi pager bagus dan siap untuk berani mengambil tantangan mengenakan beskap! Kenapa saya mengatakan tantangan? Karena selalu ada saat pertama and it’s too ‘whaattt’ for me. Hehe.. Perlengkapan beskap ternyata meliputi kain batik, rompi putih, jas luar yang berpayet, stagen untuk perut, dilapisi lagi dengan kain yang lebih tebal, lalu semacam tali hias pada pinggang. Setelah itu ada blangkon, selop, dan tentu saja keris! Perasaan pertama yang dirasakan, keren juga nih pake ginian. Lalu, lama-lama perut anda semakin terasa sesak, langkah anda semakin sempit untuk melompat, lalu punggung anda juga tak bisa leluasa bersandar! (Ada keris gitu!). Belum lagi jika anda berhadapan dengan tugasnya untuk bersalaman dengan segala jenis tamu. Saya sih biasa tersenyum, mempersilahkan masuk sewaktu bekerja di warnet, tapi dengan basekap, anda akan lebih merasakan sensasi pegal-pegal dengan nikmat.
Saya jadi tertawa kembali melihat busana basekap yang rapi tapi dengan perilaku saya yang sedemikian rupa. Parahnya, hal itu terekam video ketika saya mencoba menari mengikuti musik keroncong dengan bodohnya menggunakan basekap tanpa sadar! Ouuch! Dan saya berhasil mendapatkan anugerah ‘Mirip Artis’ lagi dari beberapa famili. Setelah Dude Herlino, Ruben Onsu, kali ini mirip Bedu! Sial.. Well, sukses selalu for Vita and Iqbal. Semoga pernikahan kalian membentuk makna.

Teori Teddiouzz Today
Menikah muda. Apakah usia muda memiliki kesiapan yang rentan untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan? Saya anggap hal itu bukan menjadi kendala apabila memang keduanya telah memiliki suatu komitmen yang memang dapat dipertahankan. Namun, ketika saya melihat pada beberapa pasangan, komitmen itu selalu diawali dengan kuat, namun pada perjalanannya tidak diimbangi dengan tingkat keterbukaan atau bisa juga dikatakan kurangnya efektifitas komunikasi. Adanya penolakan beberapa sikap kecil dapat menjadi sebuah cap negatif besar. Hal ini yang nantinya menjadi ujian sesungguhnya tentang seberapa besar anda sanggup menerima pasangan anda dengan segala kekurangannya, kelemahannya, ketidaksanggupannya, ketidakmengertiannya, kebodohannya. Hal inilah yang sebenarnya dikatakan cinta.

Sunday, August 10, 2008

Traveling Oh.. Traveling : Part One


Membaca buku Naked Traveling (Trinity), seakan melihat abstraksi surga di tengah keadaan dompet yang pas-pasan.

Mungkin agak aneh juga, kenapa saya baru melihat buku ini di barisan rak toko buku. Padahal ini sudah cetakan yang kelima!! Kemana aja saya?? Well, bukan salah saya juga kalo ternyata tidak diletakkan di tempat yang strategis untuk dilirik. Humm, tapi meskipun begitu, kisah di dalam buku ini sangat mengesankan dan dapat menginspirasi (Yah, meski saya dapat halaman yang kebolak-balik. Hiks!). Bukan sekedar inspirasi jalan-jalan, nikmatin landmark plus objek wisata, hotel to hotel, atau mungkin ngerasain pengalaman baru saja. Tapi, terkadang inspirasi ini datang dari segi kultur. Bagaimana kita dapat tertawa keras ataupun ditertawakan oleh kultur itu sendiri. Kultur juga bukan melulu bicara tentang masyarakat, tapi mungkin juga dari segi modernitas dan intelijensitas. Door flush sensor ala Jerman atau sebuah potret bandara Samarinda akan membawa anda melihat sisi lain dari perjalanan traveling. Huahaha..
Bicara tentang traveling, rasanya pengen juga sedikit menceritakan apa yang telah saya jelajahi. Meskipun belum hinggap di Andorra, Cyprus, Maldives, Carribean hingga Palau, namun kalo ditilik dari kacamata Trinity, sepertinya saya dan dia memiliki sebuah ketertarikan yang sama soal orientasi destinasi. Hehe.. Pertama, saya suka dengan laut (Meskipun ironisnya gak bisa renang!) dan satu lagi, saya suka dengan daerah-daerah yang belum pernah terjamah oleh kebanyakan wisatawan (Meski rada parno juga kalo misal ketemu dengan kanibal!). But, those islands are cool.. Huff, kapankah saya menyusul? Well, daripada masuk ke dunia khayalnya si Ruben, langsung cerita aja lah!
Perjalanan traveling saya memang sudah jauh-jauh hari dilatih dari Samarinda menuju Magelang saat saya masih dalam kandungan. Biasa, setiap lebaran atau liburan, seringkali berujung untuk menjenguk nenek. Sebenarnya destinasinya tidak sesimpel itu. Biasanya dari rumah tuh naik travel selama 2 jam menuju airport Sepinggan di Balikpapan, mengudara selama 2 jam bersama pramugari dan pilot -terkadang transit di airport Juanda Surabaya- menuju airport Adi Sutjipto di Yogyakarta -sesekali juga pernah mendarat di bandara Adi Sumarmo Solo kalo gak dapet tiket- dan melanjutkan perjalanan selama 1 jam naik taksi ke Magelang. Total waktu 5 jam belum ditambah perpanjangan waktu check in, boarding pass, delayed, ngambil bagasi, ataupun ngantri taksi. Menyenangkan juga, namun dari ukuran usia saya dulu, perjalanan seperti itu lumayan panjang dan berakhir pada sesi tidur pulas. Dari jamannya Garuda Indonesia masih pake hiburan headphone plus tv mini, Sempati Air yang dulu main course-nya bisa diitung gak pelit seperti kebanyakan maskapai sekarang, tisu Merpati yang harumnya nyengat banget, hingga pada akhirnya mendapat kesempatan langka naik Bouraq untuk bisa merasakan gempa di atas awan. Yap, bukan lagunya Katon Bagaskara yang negeri di atas awan!
Yap, gempa ini mungkin sensasinya tidak seheboh gempa yang di Jogja dulu. Tapi, tetap saja gempa di atas awan menawarkan sesuatu yang beda. Jadi, diawali dengan awan mendung yang mencekam.. (Hallah!), dan tiba-tiba ada geluduk kecil serta disambung dengan goncangan-goncangan yang lumayan keras seperti pesawat yang tekanan udaranya hampir ilang. Jadi, bahasa ilmiahnya: pesawatnya naik-turun gak stabil dan disertai dengan ekspresi-ekspresi serba panik. Waktu itu, saya hanya duduk diam dan mungkin telah berpikir sedikit aneh karena mengira sensasi seperti itu seperti petualangan di tv-tv. Pramugaripun juga sudah ada di ujung koridor untuk menenangkan dan memberi tahu agar terus menggunakan sabuk pengaman serta informasi tentang masker oksigen apabila keluar dari atap kabin. Humm, untungnya (atau sayangnya?) tidak berlangsung lama dan tidak lantas aerophobia setelahnya. Tiba-tiba cuaca kembali cerah dan penerbangan selamat hingga tujuan.
Bicara airport memang tidak lepas dengan sindrom delayed. Paling bete nih, soalnya penerbangan sekarang sudah mulai membudayakan delayed. Lebih sering sih terjadi sewaktu naik Mandala. Delayednya gak jelas sampai jam berapa. Jadwal tiket jam 1, diumumkan diundur jam 2, eh tiba-tiba didelayed lagi hingga jam 3! Untungnya maskapai Mandala memiliki penumpang dengan tingkat kesabaran tinggi seperti saya. Huehe.. Dahulu usia SMP di bandara Juanda Surabaya, bukan delayed lagi judulnya, tapi cancel. Nah, cancel satu ini bukan perihal cuaca ataupun kerusakan mesin, tapi gara-gara kesalahan administrasi. Jadi, ceritanya kapasitas penumpang pada hari tersebut berjumlah 2 kali lipat di database dari yang seharusnya sehingga menyebabkan setengah penumpangnya diterbangkan esok pagi menggunakan pesawat pertama. Huff! Dan untungnya keluarga saya disingkirkan dari daftar hari itu. Mengapa? Karena setelah kejadian itu, pihak maskapai memberikan paket hotel berbintang di dekat bandara untuk menginap! Huehehe..

(Sorry, but must to be continue next time...)