Sunday, March 24, 2013
Finding New And Finding Each Other
Saturday, February 11, 2012
Perfect Past, Another Part of Past Perfect

I do believe in “imperfection makes perfect”. I guess “perfect need a past”.
Hari ini film AADC diputar kembali di Blok M Square demi menyambut 10 tahunnya sejak dirilis pertama kali. Bahkan dulu di salah satu sudut kota Samarinda, itu film bisa hampir setahun gak lepas-lepas dari spanduk bioskop, saking fenomenalnya. Betapa Rangga dan Cinta jadi role model kisah cinta SMA. Sekarang, real ending-nya sudah tahu kan? Si Cinta menikah dengan pengusaha ternama, sedangkan si Rangga masih bahagia dengan titel jomblonya. Padahal kalau mereka berdua asli jadian, it could be perfect. Hmm, that’s bad future or just a perfect past?
Sebenarnya posting ini juga menandai 6 tahun lamanya saya menulis di sini dan selama itu pula six-pack sayapun semakin pudar *ough*. Dulu awalnya saya suka menulis apapun-pemikiran-absurd-itu di agenda (or in girly vocab: diary), hingga akhirnya blogger ini jadi alternatif yang lebih go green (padahal sering lupa taro agenda di mana). Kalau saya lihat lagi posting pertama kali pada tahun 2006 itu, rasanya pengen potong ini dua tangan. Bisa-bisanya ya saya dengan sebegitu alay-nya menuliskan huruf besar kecil dan kata-kata dengan antrian huruf di belakang seperti ‘malesssss’ atau dengan tanda seru menghujam. Tapi sudahlah, selalu ada masa-masa dimana kita bisa tertawa juga dengan hal sepele semacam itu. Bahkan, komen di posting pertama mengatakan ‘najong’. Well, it’s also a part of perfect past. How could you blame your past if you can be better now? Hehe..
Saya jadi iseng juga ngintip blog teman saya yang inspiratif itu, dan membuka halaman utama, lalu langsung shortcut ke postingan pertama pada tahun yang sama, 2006. Dan ternyata gak jauh beda! Dia bahkan berkali-kali mengatakan ‘cupu banget sih gue’. Banyak hal yang lebih membuat tertawa geli jika lebih polos bercerita. Uh, where’s the innocent era, anyway? You’re gone too fast? I guess the right answer of all the reason is about an image. Mungkin di era dimana dosis kegalauan lebih menghantui daripada dosis morphin.. atau era tebar pesona di mall mulai berpindah ke tempat-tempat yang tidak diperhitungkan sebelumnya seperti counter teller bank, kita tidak sadar bahwa membentuk imej itu jadi penting. Gerak, tawa, atau bahkan eye-contact perlahan mulai dibatasi ruangnya. Ahh.. I guess mature and matters grew up together!
Ternyata usia menghapus jejak keluguan menjadi intelijensia. Semakin pintar, terkadang membuat orang ingin dipandang lebih benar. Semakin banyak uang, membuat orang ingin dipandang lebih mewah. Semakin besar perubahan from beast-to-beauty juga terkadang membuat orang merasa punya kelas berbeda. Kalau boleh saya pilih, saya lebih jatuh cinta dengan versi ketika manusia masih sadar bahwa ia tidak sempurna. Dengan ketidaksempurnaan, terkadang orang cenderung lebih bijak, namun perasaan sempurna justru memberinya perangkap dengan congkak.
Oh, I MISS U! (in your vintage version). Do I look like vintage person too?Friday, January 20, 2012
The 25 Something

Wednesday, May 04, 2011
Thaigasmic Season

Beberapa hari lalu, lagi-lagi saya nonton film Thailand. Pertama karena memang plotnya cukup menjanjikan, selanjutnya karena kali ini diajak teman. Syukurlah kali ini tidak sendirian, jadi kalau tiba-tiba sesenggukan bisa berbarengan. Judulnya ‘SuckSeed’, film remaja yang terlihat kental dengan nuansa pop. Komedi, romansa, kehidupan sekolah dilebur menjadi satu dan dibungkus tema musik yang memang dikonsep dengan matang. Hasilnya? Sebuah hiburan yang mengundang mulut tersenyum dan tertawa. Semua orang pasti suka dengan jalan ceritanya yang sederhana. Mayoritas abege yang memenuhi bioskop juga hanyut terbahak melihat aktor kesayangannya.
Setelah beberapa buah judul film Thailand lahap ditonton, saya baru berani mengambil kesimpulan. Mengapa film mereka bisa sukses menghipnotis mata penikmat film di Indonesia? Satu, mungkin mereka sukses menempatkan aktor tampan namun dengan akting yang tidak mengecewakan, setidaknya berhasil menghipnotis kekurangan-kekurangan. Yang kedua, skenario yang cukup familiar namun peduli hal-hal kecil yang sentimental. Ide-ide segar meraka justru hadir di detik-detik mungil yang mereka sisipkan, menjadikannya spesial. Sisanya, apalagi kalau bukan pemilihan score dan soundtrack yang kalau saya boleh bilang tidak meleset dengan adegan. Ya, sepertinya kesesuaian gambar dan musik merupakan faktor penting dalam suksesnya sebuah tontonan. Bayangkan, beberapa lagu Thailand sekarang jadi rajin berdendang di kamar. Awalnya sih dulu jatuh cinta dengan soundtrack ‘The Love of Siam’ yang manis dengan sentuhan saxofon dan piano oleh Chookiat Shakveerakul, August band, lalu berlanjut ke Marissa Sukosol. Nah, kali ini score Hualampong Riddim saja sudah mampu bertahan di telinga belasan kali dalam sehari. What a magic tunes!
Oke, mungkin saya kebetulan saja lihat film Thailand kelas A. Tapi biar bagaimanapun, produksi film mereka tetap lebih matang dari Indonesia. Bayangkan, mereka sudah bisa punya kalender tahunan. Itu artinya segala pra-produksi telah dipersiapkan jauh-jauh hari sebelum akhirnya menerima jadwal rilis seperti yang direncanakan. Sama halnya seperti sistem film di Hollywood. Film masih shoot, tapi sudah ada poster teaser pengumuman rilisnya. Nah, apa kabar perfilman negara kita?
Sebenarnya tidak berbeda jauh juga, hanya saja presentasi kematangan produksi film kita masih sedikit. Yah, cukup ngerti dong rumah produksi mana saja yang serius menggarap film? Sutradaranyapun juga segelintir yang mau mendedikasikan diri. Terlepas kematangan produksi, rasanya film Indonesia itu sangat jarang memanfaatkan score dan soundtrack yang matang. Padahal masyarakat kita mayoritas ‘ear watcher’ alias banyak yang menonton setelah dengar soundtrack-nya. Lihat saja ‘Petualangan Sherina’, ‘Ada Apa Dengan Cinta?’, ‘Eiffel I’m In Love’, ‘Ayat-Ayat Cinta’, ‘Laskar Pelangi’. Cukup sukses kan? Lagu yang ‘sinkron’ dengan film pasti akan membantu dinamisnya adegan. Menurut saya, selama ini satu nama yang punya reputasi baik yaitu Achsan dan Titi Sjuman. ‘Mereka Bilang Saya Monyet’ dan ‘Minggu Pagi di Victoria Park’ punya score yang nikmat dijelajahi. ‘Love’ karya Erwin Gutawa juga menjadi manis meski ringan. That’s why, sudah saatnya Indonesia lebih fokus untuk memaksimalkan karya dengan formula yang sama. Masih banyak budaya-budaya yang bisa dimasukkan ke film kita sehingga menjadi identitas nasional. Jadi, buat apa capek-cepek impor bintang panas? Lebih baik bayar saja penulis skenario sentimental, pesan soundtrack yang bagus sekalian, plus cari satu aktor bertalenta yang bisa bikin wanita jejeritan. :)
Wednesday, April 06, 2011
Resep Galau

Postingan ini adalah postingan pembuka di tahun 2011. Ini tahun kelima! Yah, saya tau, setahun lebih saya meninggalkan jurnal pertama ini untuk beralih ke tumblr agar lebih maksimal di aspek visual. Tapi sekarang sepertinya saya akan kembali, karena banyak sekali yang ingin diungkapkan dari hati. 140 karakter twitter tidak cukup untuk menampung banjir celoteh ini.
Jakarta. Yah, saya telah menginjak ibukota. Sedikit catatan, saya tipe orang yang tidak menganggap Jakarta itu hebat. Kalau kota ini hebat, saya tidak perlu khawatir dong soal pekerjaan. Yak, status saya saat ini masih menganggur. Memantau di layar laptop berhiaskan situs jobstreet atau jobsdb. Menunggu jawaban dari para penyeleksi CV dari hari ke hari dan ditengah hari-hari itu nasib saya diperparah dengan kata ‘sendiri’. Kesimpulannya, saya merasa sendiri di Jakarta yang berpenduduk superpadat ini! Sungguh oksimoron..
Saya bukannya gak ada teman, tapi mungkin teman-teman saya juga memiliki kesibukan yang tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan bertemu dengan seorang pengangguran bukan? Ada yang sibuk bekerja, bercinta dengan pacar barunya, atau bahkan ke luar kota karena punya bisnis dimana-mana. Maka pada Rabu lalu saya memutuskan untuk menghibur diri sendiri. Mengunjungi Central Park untuk menonton dua film Thailand. Ya, saya nonton dua! (saking tidak ada kerjaannya).
Menonton sendiri ternyata tidak sesantai ketika di Jogja. Entah mengapa perspektif mereka (pegawai bioskop) seperti menghakimi. Ah, atau memang kala itu suasana hati sedang tidak menentu saja. Buktinya, saya justru memilih genre komedi romantis. Genre yang dihadirkan untuk manusia-manusia berhati sensitif yang haus akan siraman cinta dan kasih. Secara pribadi sih, ini adalah genre pelepas air mata. Kalau dipikir-pikir lebih baik menangis di bioskop dalam kondisi gelap gulita dibandingkan terlihat sembab karena realita.. Hehe
Film yang saya tonton cukuplah menghibur. ‘Crazy Little Thing Called Love’ dan ‘Best of Times’. Aneh memang menonton film cinta tanpa ada pasangan, mengingat yang lain datangnya berdua atau rombongan. Mudah-mudahan saja saya dikira pengulas artikel film di majalah atau koran. Film pertama membuat saya tertawa setengah mati di awal cerita, terdiam seksama di menit tengah, dan tak salah lagi air mulai marathon keluar dari mata. Setidaknya jarak saya menangis dengan ending cukup lama, sehingga sudah tidak terlihat lagi sisa-sisa ketika lampu theater menyala. Film ini juga yang membuat saya ingin memiliki penggemar rahasia dengan beragam foto-foto yang diambil tanpa sengaja dan cerita-cerita menarik di baliknya. Atau setidaknya saya justru lebih sering merahasiakan siapa yang saya cinta. Yeah, YOU.. Don’t you know that I ever used your face as wallpaper? Do YOU?! Do YOU know that I always checked your pic on facebook, ha? *Ok, dosis galau berlebih*
Namun, film kedua membuat saya sedikit lebih berpikir. Tentang masalah lupa. Bagaimana sesuatu yang ingin diingat, tapi harus dilupakan dan sesuatu yang harusnya dilupakan, tetapi masih saja diingat. Sebuah sifat dasar manusia yang menggelitik. Apa saya harus melupakan orang-orang yang saya cinta, namun pada kenyataan hanya membuat luka? Atau saya yang justru pernah melupakan orang-orang yang cinta saya sehingga kini menjadi karma? Atau.. Apakah teman-teman yang enggan bertemu memang ingin melupakan saya? *duar*
Tidak ada habisnya kalau menuruti pemikiran yang sering nyasar hingga Papua. Setelah sukses ‘tergalau’ lewat dua film tadi, saya memutuskan untuk ke Gramedia. Membeli buku untuk bacaan sepertinya akan menenangkan pikiran. Kali ini pilihan saya jatuh pada Kicau Kacau yang terlihat menarik retina dengan sampul kuningnya yang terang bercahaya (Sudah kuning, di pintu masuk pula!). Wah, ternyata saya sedang beruntung karena dalam rangka ulang tahun, Gramedia memberikan diskon 20%. Tapi.. setelah membaca beberapa halaman, ini buku ternyata memberi dosis lebih parah untuk semua kegalauan yang sedari tadi berceceran. Terlebih untuk bab dua, tentang kesendirian. Sepertinya kita tos dulu ya, bung Indra. Sendiri memang meresahkan.
Friday, February 12, 2010
How Well We Knew About Love?
Memasuki tahun keempat, memasuki bulan yang identik juga dengan bulan cinta.Film Valentine’s Day yang dibintangi dengan sederet bintang ternama telah edar. Beberapa pasangan yang sedang mesra-mesranya juga akan siap menontonnya. Tapi, saya (dan mungkin beberapa manusia yang berpikiran sama) masih terus mempertanyakan cinta yang hadir pada hidup sampai saat ini. Termasuk kecintaan saya dengan menulis. Tidak terasa blog ini sudah memasuki tahun yang keempat. Kecintaan yang hadir sedikit demi sedikit, yang diawali dengan pemahaman ‘dangkal’ mengenai catatan harian dan dilanjutkan dengan proses demi proses untuk menjadi penulis yang mampu memaknai tulisannya secara lebih. Apakah kecintaan saya pada tulisan memang benar-benar ada? Kok posting hanya sebulan sekali ya? Hehe..
Sebenarnya yang lebih saya bingungkan adalah cinta yang sebenarnya. How well we know about love? 23 juta pasangan telah menikah sepanjang dekade ini (1999-2009) di Amerika, namun ternyata 12 juta diantaranya berakhir dengan perceraian. Sekitar lebih dari 50% perceraian menjadi sebuah pertanyaan kembali untuk memaknai cinta. Apakah cinta itu datang hanya di saat yang berbahagia atau dengan gampangnya berakhir dengan hakim dan jaksa di kantor urusan agama. Saya juga menonton ratusan film drama untuk memaknai lebih lanjut tentang cinta. Tentu saja bukan drama yang hadir untuk komersialitas, melainkan drama yang memang membuat kita berpikir lebih lanjut tentang cinta. Up in the Air, I Love You, Beth Cooper, atau Valentine’s Day mungkin beberapa judul film yang hadir dari segmentasi yang berbeda, namun semuanya mengangkat tentang cinta. Tetapi dari semua judul itu, cinta selalu memiliki makna dan keunikan tersendiri. Yang paling saya banggakan tidak lain, Up in the Air. Drama tentang seorang staff ahli pemecatan yang menjalani kerjanya dengan sangat mobile. Berpindah dari satu pesawat ke pesawat, dari hotel ke hotel, dari kantor ke kantor, dari negara bagian ke negara bagian. Lalu ia tersadar dengan cinta yang tidak pernah menghampiri di sela kesibukannya. Kesadaran yang sangat manusiawi ketika seseorang lantas merasa kesepian dan ingin memiliki seseorang yang benar-benar diandalkan ketika dibutuhkan. What is love? Pertanyaan yang seringkali hinggap pada manusia jenis ini. Dan saya mengiyakan, “Yeah.. What really love is?”.
Saya mungkin tidak pandai dalam menjabarkan satu persatu makna cinta, tapi saya akan coba. Bagi saya cinta bukan suatu hal yang harus hadir karena dipaksakan. Cinta hadir begitu saja kok.. Jika kita melihat seseorang pertama kali, ingin terus memandanginya 5 detik kemudian, dan kita akan bergumam tentang garis senyum yang menawan atau mata yang penuh kemisteriusan. Mungkin itu dapat dikatakan cinta, meskipun hal tersebut berujung pada penekanan kata “prematur”. Jatuh cinta versi manusia post-modernisme yang dibantu iklan-iklan produk kecantikan mayoritas berujung pada penampilan fisik. That’s why, seringkali fisik menjadikan anda seseorang yang buta. Karena sebenarnya kita tidak berhubungan dengan fisik saja, melainkan sikap, perasaan, keterbukaan, komunikasi, dan segala unsur dalam hubungan. Sejak kapan kita berbahagia dengan fisik saja? Bukankah kita perlu jiwa-jiwa yang memiliki semangat hebat atau letupan kejutan dalam mendorong melewati hari-hari yang terasa berat dan melelahkan? Cinta secara dewasa adalah cinta yang dapat menerima seutuhnya, bukan pada hal-hal yang anda anggap cocok dengan anda saja. Kebiasaan kentut, koreng bekas knalpot, gejala kebotakan, hingga permasalahan virginitas. Hal-hal yang seharusnya dicintai karena mencintai kekurangan pasangan merupakan hal yang tersulit dalam hubungan. Manusia mana yang tidak hidup dan bersahabat dengan kekurangan? Tidak ada. Kalau anda menunjuk salah satu orang, berarti tandanya anda belum mengenalnya secara dalam.
Cinta hadir melalui kesederhanaan. Tidak harus melalui Gucci, Hermés, Louis Vuitton, dan sebagainya. Bisa saja hadir melalui lagu klasik yang tak sengaja diputar pada salah satu sudut kafe ketika anda duduk berdua dan dengan terpaksa merobek bungkusan memori anda. Kalau kata Mastercard, it’s priceless. Mengapa perlu memberi harga pada cinta seolah-olah cinta itu merupakan kata lain dari bisnis pelacuran yang ilegal? Yeah, why you must paid to be loved.. Mereka yang ingin dibayar adalah mereka-mereka yang miskin cinta atau miskin beneran dan harus merelakan cinta yang asli untuk hal-hal yang lebih materealistis, bukan realistis.
Tapi memang ada beberapa hal yang masih dipertanyakan tentang cinta. Bagaimana membangun masa depan hanya dengan cinta? Dengan cinta, anak gak bisa makan, gak bisa sekolah dengan layak, dan bla bla bla tentang ketakutan-ketakutan lainnya. Cinta yang asli seharusnya cinta yang mampu memotivasi, menjadikan individu bernilai ganda karena memiliki daya cadangan untuk membantu bangun dari kesenjangan. ;)
So, how well I know about love? Err.. Nothing, it’s just a theoritically!
NB: Gambar merupakan android yang berbentuk menyerupai bentuk hati (NASA)
Sunday, January 24, 2010
Transition
Happy Birthday to myself. Happy New Year 2010. Happy Sunday for everyone...Sudah lama sekali ya ternyata gak post something ke blog ini. Mendadak macet tenaga gara-gara ada blog yang lebih mini bernama ‘twitter’. Padahal banyak sekali moment yang bisa dijabarkan hingga menempuh barisan paragraf. Tapi sepertinya bukan pada saya saja, hal inipun terjadi dengan blog Christian Sugiono dan Raditya Dika yang tersohor itu. Ibarat kata, ini adalah masa-masa inkubasi periodik. Haha.. *What it means!! Let’s talk one by one..
Peralihan Angka
29 November lalu, tahun bertambah kembali pada raga ini. Bertambah bukan berarti berubah, berubah bukan berarti sepenuhnya berbeda. Ya, saya telah memasuki usia 23. Tahun ini sedikit berbeda dengan sebelumnya, lebih merasakan ‘kesuksesan’. Gak pakai acara marah-marah waktu diguyur telur, tahun ini lebih mendewasa dengan senyuman kepuasan, sekaligus lebih mobile karena sudah langsung disibukkan dengan perpanjangan KTP dan SIM. Haish, untuk urusan birokrasi selalu membuat emosi..
Peralihan Gelar
Setelah berjuang mengumpulkan teori – menganalisis fakta – menimbun butiran keringat, akhirnya 24 Desember lalu menjadi hari penentuan untuk mencapai titel S.Ikom. Proses pendadaran atau sidangnya sendiri bisa dibilang hancur. Tidak ada perlawanan sengit antara penyidik dan tersangka. Yang ada cuma kerutan dahi dan bergumam, “Damn, apaan ya?”. Meskipun demikian, ternyata saya dinyatakan lulus juga dengan nilai ‘kurang’ ditambah bonus paket revisian. Dilanjutkan pada sisa perjuangannya, masih belum bisa wisuda Februari nanti, just realized it was a greatful thing so far. No need to be related with any theoritic person anymore and sure there’s no magister moment..
Peralihan Tahun
Tidak seperti tahun sebelumnya pula, tahun baru 2010 ini tidak penuh dengan euforia dan maraknya kembang api plus petasan. Berhubung kondisi fisik memasuki peralihan tahun tidak begitu bertenaga, maka tahun baru hanya dihabiskan di kamar. Anehnya, kok hal ini gak terjadi sama saya saja? Rata-rata anak kost yang lainpun demikian (malas keluar). Perubahan tentang kedewasaan? Tahun 2010 memang penuh dengan semangat baru tanpa harus memaksakan diri keluar saat malam menjelang. Banyak resolusi sederhana sebagai motivasi untuk bisa jadi sesorang yang lebih bijak. Salah satunya: MENINGKATKAN SKILL FOTOGRAFI!
Peralihan Berikutnya...
Sedikit demi sedikit, masa ‘cerah’ telah terlihat. Menunggu prosesi wisuda hingga Juni juga bukan masalah. Sedikit relaksasi mungkin juga diperlukan. Karimun Jawa seperti destinasi yang sempurna namun tawaran Bandung yang sepertinya lebih dahulu terlaksana. Seperti tahun lalu, tiap awal tahun, saya akan mereview film-film Indonesia terbaik sepanjang tahun. Namun tahun ini mungkin saya akan lebih fokus tentang pembuatan blog baru khusus tentang perfilman Indonesia, yaitu moviouzz.blogspot.com yang sedang digodok secara konseptual. Have a good year everyone and wish me luck...
Sunday, November 01, 2009
Belitung Island, Heavenly of Rocky Beach...

Belitung, dengan euforia Laskar Pelangi-nya sebenarnya bukan motivasi awal berkunjung ke daerah ini. Keinginan ke sana justru muncul akibat kebanyakan majalah travel ngasih panoramic views-nya tentang keindahan pantai yang -konon- salah satu yang terunik di dunia karena struktur bebatuannya yang besar-besar. Nah, sebenarnya apa aja sih yang ada di sana?
Ke Belitung gak bawa peta? Jadilah kita hanya bertanya-tanya tentang the most famous places to visit ke penduduk lokal alias temen kuliah saya yang emang tinggal di sana. Setelah tidur semalam untuk merevitalisasi tenaga, akhirnya kita memulai tujuan pertama, yaitu pantai Tj. Tinggi. Jarak antara Tj. Pandan (pusat kota – atau yang sering disebut juga Tanjung) ke daerah tersebut sekitar 45 menit. Tj. Tinggi merupakan kompleks pantai yang sangat panjang dengan pesisir yang dihiasi dengan banyak bebatuan. Termasuk batu paling besar yang menjadi lokasi Lintang dkk berteriak “Laskar Pelangi”. Sturktur bebatuan yang sangat indah, gak mungkin bisa dilupakan apalagi jika bersatu dengan air jernih yang mengalir cukup tenang. Tapi, karena lagi musim hujan, maka untuk mendapatkan view yang paling mantap maka sewaktu matahari bersinar terang, kira-kira sebelum jam 12 siang.
Di sisi yang lain pantai Tj. Tinggi, terdapat salah satu cottage yang disinyalir milik Tommy Soeharto bernama The Lor-In Villa yang langsung menghadap laut. Jika anda ingin berenang di pantai, maka ini adalah sisi pantai yang paling tepat karena memiliki pesisir yang sempurna, dengan derajat kemiringan pantai yang baik. Tapi, sisi ini gak terlalu private mengingat jalan di depan cottage merupakan jalan umum.
Destinasi kedua adalah pantai Tj. Kelayang. Pantai ini memiliki karakteristik pantai pada umumnya. Biasa saja, tidak banyak keunikan yang bisa dilihat. Tapi, sedikit perahu nelayan berlabuh di pantai ini. Sewaktu kita datang, ternyata sedang berlangsung event Sail Indonesia 2009. Setelah bartanya-tanya dengan penduduk lokal, ternyata Sail Indonesia adalah event tahunan yang memang sudah sering dilakukan. Kebetulan, Belitung menjadi titik finish setelah beberapa bulan lalu juga ada Sail Bunaken. Ratusan kapal layar dari berbagai benua berkumpul dan siap disambut oleh penduduk lokal yang antusias. Terlihat bule-bule setengah baya menikmati suasana Belitung sambil melihat beberapa stand aksesoris yang diperisapkan oleh panitia acara. Sayangnya, kapal layar berlabuh hanya di tengah laut sehingga pupus sudah harapan saya untuk foto-foto di atas kapal layar.. ;PBerjalan beberapa menit dari Tj. Kelayang, terdapat perkampungan nelayan Bugis, yaitu Tj. Binga. Kegiatan para nelayan mengeringkan hasil tangkapan mereka dan bau-bau amis dapat terlihat dan terendus. Di sana juga merupakan tempat yang pas apabila anda ingin menyebrang ke pulau Lengkuas, di mana pulau tersebut memiliki sebuah mercusuar indah. Sayang waktu dan nego kami gagal mencapai pulau tersebut. Huiks!
Berjalan lagi sedikit, kita akan menemukan Bukit Berahu, bukit yang bisa melihat view pantai dari ketinggian. DI bawah bukit tersebut, terdapat cottage “Mawar” yang cukup private dengan harga 200 ribu/malam. Meskipun pesisir pantainya tidak seindah Lor-In Villa, namun pantai ini terletak jauh dari jalan utama. Bisa anda coba jika emang niat honeymoon. Haha..Pantai lainnya yang lebih dekat kota yaitu pantai Tj. Pendam. Di sini lebih terlihat suasana urban karena di sekitar pantai telah dirombak oleh pemerintah kota menjadi "social room". Berbagai sarana olahraga seperti jogging track, lapangan futsal, taman bermain anak-anak, hingga cafe-cafe lokal menjadi pemanis di pinggir pantai. Di pantai inilah juga, sunset-view yang paling indah dapat ditemukan. Tapi, karena kemarin keasyikan makan batagor.. Alhasil, sunsetnya cuma dapet segini niih...
For all this journey, it's really wonderful! 3 nites, 2 days made us amazingly can't imagine before.. This island is very kind and peaceful.. Special thanx to Siti, Habibah, Fahmi, and local citizen for their contibute.. ;)See on another journey..
FOR COMPLETE PHOTO GALLLERY, CLICK HERE
Wednesday, October 28, 2009
Road To Belitong Island...

Salah satu hal yang spontan juga yaitu kita beli tiket jetfoil pagi di pelabuhan Boombaru beberapa menit sebelum keberangkatan. Haha! Untuk informasi, jetfoil adalah sejenis kapal cepat yang berkapasitas hingga ratusan orang. Sebelum bahas tentang harga, kita bicara dulu soal rute akses ke Belitung. Jika berdomisili di Jakarta, lebih mudah jika terbang dengan pesawat langsung ke Belitung dengan jarak tempuh hanya kurang dari satu jam. Namun, jika dari Palembang dan ingin merasakan sensasi perjalanan, transportasi jetfoil juga cukup nikmat (jika anda gak mabok laut! Haha..). Jetfoil yang tersedia dari Palembang menuju Bangka ada dua, yaitu Express Bahari dan Sumber Bangka. Lebih mahal Sumber Bangka dikit sih, soalnya interiornya lebih bagus. Hehe.. Tapi, kita pilih Express Bahari saja karena toh kecepatan jetfoilnya juga sama. Selain menghemat, kita juga udah dapet Executive Class dengan harga sekali nyebrang laut IDR 150k. Fasilitas? Ada Air Cooler superdingin yang bikin kita nyesel gak bawa jaket tebel, tontonan DVD dengan film-film gak jelas, seperti Sumpah Pocong di Sekolah, ditambah snack seadanya namun lebih baik daripada maskapai penerbangan low-fare.
Sesampainya di Pulau Bangka, kita disambut sebuah mercusuar yang imut ini di pelabuhan Tj. Kelian. Mercusuar dengan ketinggian 56 meter dan 199 anak tangga ini ternyata masih lebih junior dibandingkan mercusuar di Belitung, tepatnya di P. Lengkuas. Ckckck.. Pegel gak tuh?!
Selanjutnya, kita harus beli tiket travel buat melintasi Pulau Bangka dari pelabuhan Tj. Kelian ke pelabuhan Pangkal Balam. Lebih baik sih beli tiket travel di kapal saja daripada keabisan travel di pelabuhan. Cukup IDR 60k, ternyata kita udah dapet Suzuki APV dan konon ini adalah satu-satunya APV yang beroperasi.

Perjalanan darat ini memakan waktu 3 jam, kurang lebih sama dengan jarak tempuh jetfoil tadi. Di tengah-tengah perjalanan, mayoritas travel akan berhenti di RM. Tri Minang Asia yang berkonsep prasmanan. Makanannya bolehlah, tapi saya hanya ngambil telur dan berbagai sayur. Bener saja, nasi telur dipatok harga 10k, sedangkan es teh 5k. Sebenarnya gak kaget sih ngeliat harga ini apalagi saya doyan café to café, namun semangat traveller kita luntur akibat merasa bersalah membeli makanan mahal. Haha!
Jalanan menuju pelabuhan Pangkal Balam sama saja seperti jalan Balikpapan – Samarinda ataupun Lampung – Palembang. Waktu tiga jam itu dihabiskan Adit beberapa jam untuk tidur dan saya lebih asyik mengamati kultur dan penduduk serta memotret gaya tidur Adit. Haha! Gak terasa, kita sudah sampai di ibukota Bangka-Belitung, Pangkal Pinang. Ini tandanya kita akan memasuki pelabuhan Pangkal Balam. Lagi-lagi kita turun travel sambil tergopoh-gopoh mencari loket penjualan tiket untuk tujuan Belitung, tepatnya pelabuhan Tj. Pandan. Untuk akses ke Belitung, jetfoil yang tersedia hanya Ekspress Bahari dengan harga IDR 175k (Executive Class) dengan jarak tempuh sekitar 4 jam. Soal fasilitas, hampir sama kecuali ketiadaan bonus snack dalam perjalanan. Namun tenang saja, masih ada kok yang berjualan pop mie seharga 8k. Huehe..
Kita baru sampai di pelabuhan Tj. Pandan jam 6 pm. So, total perjalanan yang dihabiskan dari Palembang ke Belitung kalo dihitung-hitung kurang lebih hampir setengah hari, yaitu 11 jam! Sampai disana kita langsung dijemput oleh temen kuliah saya yang memang asal Belitung, Siti. Nah, dia berhasil ngerayu temen cowoknya supaya mau nampung kita buat ngungsi dadakan di kontrakan. Haha..
Mau tau ngapain aja kita di Belitung? Check the next posting. Buat bikin penasaran, ini nih preview saya lagi mengeksotiskan kulit.. Haha!

Tuesday, August 11, 2009
How to ENjoy Jakarta in 10 Days (Part 3)
Day 3: Hot snow day at the bay..Snowbay.. Is it bay with a snow??
Well, travelling di sebuah kota gak lengkap juga kalau gak kunjungin wisata modernnya. Pengen juga nyobain another waterzone di kota tersebut apalagi sekarang setiap kota di Indonesia seakan berlomba-lomba untuk memiliki waterzone terbaik. Salah satu yang berada di Jakarta yaitu Snowbay yang terletak di dalam TMII. Tempatnya tergolong baru, makanya ada beberapa wahana yang masih dalam tahap pembuatan. Tapi, gak nyesel juga kok, soalnya juga dapet promo buy 1 get 1 via Mandiri debitcard selama musim liburan. Kalau harga tiket normalnya sih IDR 100k. Begitu masuk, kita akan menuruni tangga dan seperti biasa.. Menemukan petugas loker! Namun, loker tidak dipisah antara wanita dan pria. Yang dipisah adalah kamar ganti dan kamar mandinya. Kamar mandinyapun disediakan dengan versi beragam. Ada yang bernuansa alam terbuka dengan bebatuan (Konon mirip Waterboom Bali), ada juga yang tertutup rapat, dan khusus toilet. Nah, wahananya kira-kira yang sudah jadi lebih dari 10. Terdiri dari wahana dewasa, wahana anak, dan tentu wahana semua usia. Untuk wahana anak, saya gak usah coba deh, ntar emak-emak pada naksir lagi.. Hehe. Wahana yang menurut saya daya adrenalinnya paling tinggi yaitu Flush bowl, dimana kita diluncurkan terbaring tanpa ban dari tempat teratas wahana dan meluncur seperti bensin yang mengalir pada sebuah corong. Sampai di sebuah corong, kita akan berputar-putar dan akhirnya jatuh ke sebuah lubang yang memiliki kedalaman 2,5 meter... And I can’t swim!! Gosh, sebenernya waktu itu udah tahan napas, tapi perasaan kok lama banget ya diangkatnya. Huah, tapi cukup mendebarkan juga. Hehe..
Selanjutnya wahana yang cocok buat seru-seruan yaitu Twister. Wahana ini punya penggemar banyak sehingga gak tanggung-tanggung kalo mesti ngantri selama setengah jam sampai sejam karena wahana ini ternyata punya jam istirahat.
Di wahana ini, kita memakai ban bundar yang berpenumpang genap (2 atau 4). Prosesnya yaitu kita bakal ngelewatin corong yang gelap dengan aliran tenang, hingga waktu itu saya cuma bilang, “Hah, kaya gini aja?”. Tapi ternyata, wahana ini memberi kejutan dengan tinkungan pipa yang tajam sehingga kita akan meluncur dengan cepatnya menuju mangkok besar dan naik turun membentuk arah seperti bentuk bumerang. Berhubung para traveller di ban badannya gak kalah gede dari mangkoknya, tekanan gravitasipun semakin tinggi dan semakin tinggi pula kita melayang miring.. Hehe.. Seru!! Wahana lain yang boleh dicoba, meskipun sebenarnya di waterzone lain juga ada yaitu kolam arus dan kolam ombak. Cukup menyenangkan meskipun sudah pernah. Wahana yang not recommended mungkin kolam uap atau jacuzzi tapi dengan air dingin. Huah, not goin to be relaxed anyway..
This is gonna be a nice day, meski ternyata harus mengorbankan kulit cerah kita. Bahkan, sunblock dari dokterpun belum cukup mempan dengan matahari jam 12siang. Hoho![to be continue..]
Friday, July 10, 2009
How to ENjoy Jakarta in 10 Days (Part Two)

Day 2: This is the Old Town

Gak cuma itu, ternyata ST12 juga lagi shooting untuk videoklip barunya di Cafe Batavia, sedangkan acara Koper & Ransel yang dipandu oleh seorang bule -whosoeva- juga lagi ambil gambar. Quite interesting, meski akhirnya ketika jalan pulang, mobil disrempet om-om Chinese Glodok yang gak jelas.. Alhasil, lampu mobil jadi salah urat dah.. Huff!

But, where we have to go next: Yes, it’s time to migration.. Bogor, here we come..
[To be continue..]
Thursday, July 09, 2009
How to ENjoy Jakarta in 10 Days (Part One)

Day 1: Jakarta Fair 2009
Garis besarnya: It’s not the HOLIDAY! Liburan kok ke Jakarta... That must be the worst holiday! So, it’s just a trip for havin’ fun!! Haha... Partner kali ini yaitu Agus, Intan, Aline, dan Titi. Tiba di Pasar Senen, Jakarta sekitar pukul 04.30am via Business Class Train (dan baru ngerti kalo embel2 “kelas bisnis”nya sama sekali gak beralasan!!). Banyak yang minta-minta, banyak yang jualan, banyak yang tidur di lantai cuma modal bayar 30k.. So crowd dan secara sukses menggagalkan tidur nyenyak selama di gerbong no. 6 malam itu. Well, sampai basecamp sekitar Sunter, baru lengket dah sama bantal.. Zzz...

Siangnya, this is the first spot to go... PRJ!! Pekan Raya Jakarta atau yang biasa juga dikenal Jakarta Fair.. Berhubung gak ngerti skejul, akhirnya sukses juga nyampe dengan titel: KEPAGIAN! Emang sih pintu parkir udah dibuka dan udah ada segelintir orang yang nangkring, tapi kalo dipikir-pikir musti killing time satu jam.. Huff! Tapi ternyata ada gunanya juga dateng awal. Belasan menit kemudian, tiba-tiba pengunjung yang siap ngantri membludak. Pukul 03.30pm, tiket per orang 15k berbentuk magnetic card dengan logo Bank Mandiri udah di tangan. Siap masuki alam venue super-luas..
Venue JakFair terbagi dalam beberapa hall indoor dan hall outdoor. Beberapa branded otomotif, instant food, dan fashion lebih banyak di outdoor. Sedangkan telekomunikasi, elektronik, local participant lebih banyak di indoor. Salah satu stand favorit adalah The Body Shop yang lagi SALE shower gel sampai 50%. Tapi sialnya, shampoo plus conditioner yang biasanya saya pakai harganya masih stabil. Huehehe... (Ketauan deh sale-minded.. Haha!!). Sayangnya lagi, kebanyakan brand jual barang stok lama.. (Atau berhubung ini the last days yaah?? Jadi udah barang sisa??!).

Humm, gak lupa juga nih disini ngerasin juga gimana rasanya Kerak Telor yang termahsyur di teve swasta nasional kita kalo menjelang HUT Jakarta.. One tips: Lebih enak kerak telor bebek dibanding kerak telor ayam.. Harganya?? SAMA keduanya. Dari siang sampai isya, betis udah berubah keker jalan kesana-kemari. Pulangnya, sempet nyasar juga nyari mobil di parkiran yang udah gak jelas kiblatnya. Hehehe..

Teori Teddiouzz Today
Well, Jakfair is damn wide! Laen kali mungkn skalian bawa training pants buat skalian jogging di sana.. Haha..
[To be continue..]
Tuesday, April 28, 2009
We're Always Need Some Change..

Pertanyaannya: Apakah perubahan itu menjadikan kita lebih baik atau justru sebaliknya, hanya baik untuk orang lain. Tapi, bicara tentang perubahan juga tidak terus menerus hanya berada pada konteks pergantian umur ataupun kondisi alam, tapi juga tentang sebuah rentang dan bentang perubahan itu sendiri. Sebuah kejadian yang memberikan deretan frame tentang perubahan itu adalah ketika saya melihat sebuah komunitas di Facebook dengan nama “Lulusan SDN 009 Samarinda Tahun 1998”. Tunggu.. Memori langsung berlari sekencangnya ke masa itu. Topi merah, seragam putih, dan celana merah mini. Duduk lesehan seleksi masuk SD karena tak cukup umur, mencoba berhitung soal-soal lima tambah lima maupun sepuluh bagi dua. Soal yang sangat mudah sebenarnya, dan berakhir dengan penerimaan di kelas 1 C. Saya tertawa dan masih cukup mengingatnya..
Halaman komunitas itu lalu saya buka dan akhirnya menemukan tampilan list nama-nama masa lalu yang telah menanti untuk difiltrasi. Damn, segalanya telah berubah.. Mereka-mereka yang dahulu saya kenal akrab, sekarang telah mengubah diri mereka sesuai dunianya. Dunia mereka, bukan lagi dunia kita sewaktu dulu bersama. Ada yang hobi bertukaran kertas surat, sekarang sukses merambah ke dunia tentara, ada anak ingusan-tapi-preman berganti aksi menjadi pianis, ada yang dahulu pintar berubah menjadi terbelakang pasca kecelakaan, bahkan ada yang telah menanggalkan jubah dunianya. Itu realita. Tuhan selalu punya cara untuk tetap mempertahankan perubahan. Apakah perubahan itu harus disalahkan?
Nostalgia berlanjut dengan halaman foto yang menggambarkan ruang kelas kecil yang sederhana. Ruang dengan tegel tua yang konon dibangun di atas bekas kuburan Belanda. Saya heran juga, sejak kapan teknologi kamera telah populer dan membiarkan anak-anak SD ini narsis.. Haha.. Saya juga mengingat sebuah pelajaran berharga: Menjadi manusia itu jangan terlalu rajin. Kesimpulan ini diterjemahkan dari hukuman jewer yang diberikan guru olahraga pada setiap siswa yang mengerjakan LKS (Buku Kerja) hingga satu buku habis (dan saya termasuk di dalamnya). Ketahuan mengepalkan tangan di belakang kepala guru juga termasuk salah satu jiwa kekanak-kanakan yang pernah ada. Sungguh.. semua itu dulu pernah ada. Lalu kemanakah jiwa-jiwa itu pergi?
Berubaaah.. Seakan-akan perubahan itu bisa cepat terjadi seperti Ksatria Baja Hitam berganti kostum atau mungkin seiring setelan mood pada status anda. Tapi, benarkah diri kita berubah? Saya menganggap banyak sekali destinasi yang perlu dijamah untuk berubah sedikit demi sedikit untuk menjadi total berbeda. Perlu bermacam-macam pikiran untuk menstimulasi sikap dari yang tidak pernah menjadi pernah atau bahkan dari yang jijik menjadi terbiasa. Yang pasti, perubahan di sekitar kita itu akan selalu ada... dan orang yang bahagia adalah orang yang tidak pernah marah akan perubahan, melainkan orang yang telah mempersiapkan sikap untuk menemui perubahan tersebut.
Oiya, sekolah ini sekarang juga telah berubah brand menjadi SDN 007 Samarinda. Our beloved 009 was changed to James Bond 007 School... Yeah, that’s cool... Or just dull?
Thursday, April 09, 2009
Quick Count Party

Pemilu 2004 menjadi pemilu pertama saya untuk ikutan prosesi ritual kenegaraan seperti ini. Meskipun masih sistem nyoblos gitu.. Tapi, yah itu sudah cukup ngerasain deh gimana rasanya ikut pemilu. Sewaktu itu, saya belum ngerti banget-banget siapa saja partai yang kompeten untuk dijadikan sebagai pilihan. Jadi, pilih saja yang kira-kira berlogo bagus. Hehe.. (Dan akhirnya juga, 1 suara saya tidak berpengaruh banyak sama hasil akhirnya). Tapi, sudahlah, yang lalu menjadi memori saja.
Tahun 2009, pesta negara ini terlihat lebih meriah. Iklan televisi makin bombastis, berebut jam tayang di stasiun televisi nasional, ada yang mengetengahkan konsep-konsep faktual dengan data-data yang kompeten hingga konsep dangdut yang lebih merakyat. Belum lagi hadirnya baliho-baliho dengan efek narsisme wajah-wajah caleg yang makin leluasa berebut kursi, semakin membuat pesta ini berlangsung seperti ajang idola. Tentunya dengan perkiraan dana kampanye yang berjumlah hingga menyentuh 10 digit rupiah. Ugh.. Jumlah yang besar (dan memang juga diikuti dengan ambisi yang besar pula.. Hehe).
Tahun ini juga saya berada di Jogja. Ingin merasakan juga sensasi ‘celup kelingking’ lagi untuk turut berpartisipasi. Namun, ternyata prosedur mutasi-mutasi serta sosialisasi yang gak pernah terkomunikasikan dengan baik membuat saya menjadi ‘ilfil’ untuk berusaha mencari cara memilih. Huahh.. sudahlah, saya menjadi skeptis tentang tujuan pemilu itu sendiri. Jika berbicara tentang pemilu, pasti lebih seru ketika melihat proses penghitungan suara, Nah, sekarang sudah ada lembaga-lembaga survei yang menghitung secara cepat atau yang disebut Quick Count. Tv One dan Metro TV menjadi dua stasiun TV dengan label “TV Pemilu” maupun “Election Channel”. Sungguh mengejutkan kedua stasiun tersebut berebut atensi melalui dua lembaga survei yang berbeda dan dengan update yang konsisten. Mari kita bandingkan satu persatu.
Display Peringkat
TvOne tampil mengejutkan dengan display peringkat partai yang lebih baik, dari segi warna maupun posisi penyusunan. Sementara Metro TV lebih kecil dan lebih buram dalam pemilihan warna maupun fontase.
Update Presentase
Masing-masing stasiun TV selalu update dalam menyajikan data-data secara konsisten, namun dalam hal tercepat, TvOne lebih unggul dalam mencuri start penghitungan. (Meskipun saya sendiri masih awam dalam hal keakuratan data).
Analisis Pakar
Dari TvOne, beberapa pakar sangat antusias dalam mengkritik persiapan-persiapan KPU maupun analisis tentang pengaruh dominasi partai-partai yang memimpin peringkat. Salah satunya adalah dari pihak Charta Politika dan pastinya Effendi Ghazali yang memberikan opini-opini menarik. Dari Metro Tv juga tidak kalah seru, hadir pengamat-pengamat dari beragam bidang, bahkan pakar dari luar kota.
Host
Tidak bisa dipungkiri, bahwa presenter Metro TV lebih unggul dari cara penyampaian, bahasa yang dipergunakan, serta jam terbang. Najwa Shihab tetap menjadi anchorwoman yang handal.
Konsep Acara
Metro TV lebih baik dengan menjadikan ajang Pemilu ini dengan mengemasnya lebih professional dan eksklusif dibandingkan dengan konsep TvOne yang berteriak-teriak seperti menantikan idola baru, bukan pemimpin negara baru.
Dari keseluruhan, TvOne menurut saya cukup pintar dalam menyajikan data-data peringkat lebih cepat dibandingkan stasiun televisi lain ditambah lagi dengan dialog oleh Effendi Ghazali yang santai namun tetap berkualitas. Sedangkan Metro TV menunjukkan professionalitas yang tinggi dalam memaparkan analisa-analisa terkait peringkat partai dan kemasan acara yang lebih eksklusif berkat penampilan studio yang mengagumkan. Keduanya dapat mempertahankan labelnya masing-masing. Meskipun, event pemilunya sendiri dipenuhi kasus DPT berantakan, money politic, hingga adanya intimidasi-intimidasi.
Semoga pemilihan presiden nanti, saya diikutkan.. Hehehe
Sunday, March 01, 2009
The 1st Annual Moviouzz Awards
Sebuah penghargaan adalah bentuk apresiasi yang diberikan kepada insan-insan yang telah memeras tenaga maupun pemikiran yang dianggap telah menyumbangkan inspirasi kepada mata-mata yang memandangi hasil karya mereka. Industri film salah satunya, merupakan sumber karya Indonesia yang beberapa tahun terakhir berkembang sangat pesat (secara produktif saja sebenarnya..). Sebagai pengamat film amatiran, rasanya kok kurang afdhol kalau gak ngasih penghargaan juga kepada mereka-mereka yang saya anggap baik. Akhirnya, saya memutuskan untuk menghadirkan sebuah post tahunan bernama Moviouzz Awards, sebuah penghargaan independen (Jangan pada nagih trophy loh...) pada insan-insan perfilman yang telah sukses dan serius memerankan film-film berkualitas di Indonesia.. Well, inilah peraih The 1st Annual Moviouzz Award...

BEST ACTOR
FEDI NURIL (Ayat-Ayat Cinta)
NABOYUKI SUZUKI (Cinta Setaman)
NICHOLAS SAPUTRA (3 Doa 3 Cinta)
SOPHAN SOPHIAAN (LoVe)
VINO G. BASTIAN (Radit & Jani)
BEST ACTRESS
DJADJANG C. NOER (Cinta Setaman)
FAHRANI (Radit & Jani)
HENIDAR AMROE (Mereka Bilang, Saya Monyet)
KIRANA LARASATI (Perempuan Punya Cerita)
TITI SJUMAN (Mereka Bilang, Saya Monyet)
BEST DUO OR GROUP
LASKAR PELANGI (Laskar Pelangi)
FEDI NURIL, RIANTI CARTWRIGHT, CARRISA PUTRIE (Ayat-Ayat Cinta)
RICKY HARUN & WIWID GUNAWAN (Kawin Kontrak)
SOPHAN SOPHIAAN & WIDYAWATI (LoVe)
VINO G. BASTIAN & FAHRANI (Radit & Jani)
THE HONORABLE HOT
DIAN SASTRO (3 Doa 3 Cinta)
DJENAR MAESA AYU (Cinta Setaman)
MARIO LAWALATA (Mereka Bilang, Saya Monyet)
RICKY HARUN (Kawin Kontrak)
WIWID GUNAWAN (Kawin Kontrak)
BEST ORIGINAL SOUNDTRACK
GITA GUTAWA "Sempurna" (Love)
NIDJI "Laskar Pelangi" (Laskar Pelangi)
ROSSA "Ayat-Ayat Cinta" (Ayat –Ayat Cinta)
TIA "Semoga" (May)
TITI SJUMAN"When You Smile" (Mereka Bilang, Saya Monyet)
BEST RISING
CARRISA PUTRIE (Ayat-Ayat Cinta)
FAHRANI (Radit & Jani)
PEVITA PEARCE (Lost in Love)
SUSAN BACHTIAR (Perempuan Punya Cerita)
TITI SJUMAN (Mereka Bilang, Saya Monyet)
BEST DIRECTOR
DJENAR MAESA AYU(Mereka Bilang, Saya Monyet)
HANNY R. SAPUTRA (Love)
HANUNG BRAMANTYO (Ayat-Ayat Cinta)
HARRY DAGOE(Cinta Setaman)
RIRI RIZA (Laskar Pelangi)
BEST MOVIE
RADIT DAN JANI
MEREKA BILANG, SAYA MONYET
PEREMPUAN PUNYA CERITA
AYAT-AYAT CINTA
LASKAR PELANGI
Tuesday, February 10, 2009
3 Tahun Teddiouzz Today!
Tahun ketiga membuat saya sadar blog ini sudah lumayan banyak menghadirkan variasi format. Meskipun (...) saya belum menemukan format yang paling PAS untuk menjadikan blog ini jadi maksi dalam hal informasi maupun inspirasi, ataupun sekedar relaksasi. Mungkin saya akan mencoba me-refresh konten lagi agar lebih bersifat public interest, bukan hanya privacy interest. Haha.. Anyway, dari awal blog ini berdiri sepertinya saya belum pernah membuat list tentang kepribadian atau beberapa hal yang mungkin kalian pengen ngerti atopun gak peduli sama sekali.. OK, this is for a new perspective. It’s time for the real me.. ;)
My 25 List of Somethin’ U Might Didn’t Care
Merasa saya telah BERUBAH.. Dahulu Sekarang. Baik di satu sisi, tapi juga sekaligus buruk di sisi yang lain. OK, Nobody’s perfect.. and human always has a chance for changes!
Jika ditelusuri dalam sebuah buku astrologi, ANGKA 29 sebagai tanggal kelahiran memiliki arti bahwa saya adalah tipe orang yang dapat menjadi penengah antara kedua belah pihak yang berseteru. Terbukti, (entah mengapa...) saat ini banyak juga yang menjadikan saya ‘orang ketiga’ dengan membawa misi perdamaian ketika perang rumah tangga sedang berlangsung. Hehe... Pekerjaan masa depan: Anggota PBB!!
Masih berkaitan dengan di atas, sering heran dengan prinsip CINTA ITU BUTA. Sudah banyak melihat fakta bahwa banyak orang yang tersakiti oleh cinta, tapi... masih saja berharap! C*MON, Let’s just begins another life... daripada bersama tapi penuh tekanan?
Sadar banget dengan bahaya GLOBAL WARMING. Bumi berubah menjadi tempat yang menakutkan, bahkan seringkali membayangkan bahwa beberapa tahun ke depan kita tidak bisa lagi bersentuhan dengan sinar matahari yang memiliki radiasi UV secara langsung. Well, move to another planet??
Lebih cinta menjepret dibandingkan merekam. FOTOGRAFI itu menyembunyikan banyak misteri dibandingkan rekaman. Lebih banyak imajinasi-imajinasi yang dapat ditangkap dan memiliki tantangan untuk ditafsirkan. Entah mengapa, hobi yang satu ini membuat saya lebih menghargai detik demi detik dalam hidup.
Sering bertanya-tanya, apakah saya DYSELEXIA? Gejala-gejala tentang salah penyebutan nama, tempat, atau jenis barang sering terjadi..
HOBI balik ke kamar lagi setelah keluar kamar kalo mau berangkat. Pasti ada yang tertinggal.. Entah dompet, buku, sunblock.. Hahaha!
Koleksi MAJALAH dalam taraf yang agak gila. Majalah... Lifestyle, Fashion, Travelling, Gadget, Movie, People, Newsweek... Bahkan ingin rasanya membuat museum majalah!
“Milyaran panah jarak kita, tak jua tumbuh sayapku”, DEWI LESTARI selalu membuat saya terkesima meskipun hanya dengan kata-kata.
Mencintai FILM DRAMA sebagai hiburan di kala senggang. Mengapa drama? Sebab action jarang mengandalkan cerita, sedangkan horor hanya sedikit yang menyeramkan. Sampai pernah dengan terpaksa menonton Hantu Jembatan Ancol dan sukses dimarahin orang sebioskop karena tertawa. Haha..
Mendukung yang pernah diucapkan CHRISTIAN SUGIONO dan MAMA LAUREN, benci ketika ada sesuatu yang bersifat SARA. Membanding-bandingkan agama, berkata bahwa agama yang satu lebih baik atau lebih benar daripada yang lain. Saya pikir orang yang sudah mengerti agama tidak akan melakukan hal-hal seperti itu.
Percaya dengan kutipan bahwa SENI, BUDAYA, dan AGAMA tidak dapat diperdebatkan. Tiga hal itu berada pada jalur masing-masing bagi siapa yang ingin mengikuti.
INTERNET is a must.. Who’s ignore it??
Rindu pada masa kecil ketika semua SERBA HIJAU. Lapangan bola yang sejuk, Kolam ikan yang segar, atau embun pagi hari yang bersatu dalam kabut. Semua itu ada di dekat rumah. Sekarang, semua tidak terawat dan rumah saya juga pindah..
Telah terbiasa berdialog dengan binatang sejak kecil, meski dialognya gak pernah nyambung.. Hehe! Tapi, sewaktu kecil sering menjenguk beruang, biawak, monyet, tupai liar, babi hutan, burung merak, anjing hutan, bahkan pernah shock melihat ULAR DI TEMPAT JEMURAN dengan diameter kaleng makanan dan panjang yang tiada tara dalam jarak dekat. Well, this is my wild side...
Entah mengapa... Paling tidak suka dengan insekta. Mungkin hal ini dipicu oleh sengatan tawon bertubi-tubi dahulu kala ditambah dengan isengnya teman-teman yang pernah memberikan bingkisan 100 jangkrik saat ultah. Well, NO INSECTANO di kamus saya.
MENU ANDALAN ketika relaksasi: Pinky Smoothies@Frappio, Cheese French Fries@Cokelat, Chicky Corn@Daily Fresh, Orange Sunset@Tamansari dan masih banyak yang enak, tapi tidak di level best value..
KANGEN dengan masa-masa SD, SMP, SMA. SD dengan kegiatan tukar-menukar kertas mickey mouse, SMP dengan ekskul renang, atau SMA dengan kegiatan mading dan aktivitas keringat seperti basket, sit up, push up, scott jam sewaktu jam olahraga. (Sekarang udah jarang.. Haha!)
Punya teman-teman yang GOKIL hingga saat ini. Tak menyangka dari semester satu hingga sekarang masih bisa bersama (Bersama-sama belom lulus.. Hehe!). Yang merasa, angkat tangan sendiri ya...
Masih bingung dengan permasalahan RAMBUT. Mulai dari perawatan yang low-end sampai sekelas Bodyshop tidak berpengaruh. Huff, whatever...
Kamar saya seakan-akan dipenuhi KABEL. Mulai dari kabel charger handphone1, handphone2, handphone3, kamera, laptop, kabel televisi, kabel multifungsi speaker, kabel transfer data handphone1, kabel headset handphone2, bla...bla... Ruwet!!
Sulit untuk membenci orang, tapi SEKALI BENCI tidak tanggung-tanggung sinisnya. Tanduk setan timbul dari kepala dan siap membawa trisula untuk menusuk pantat tersangka. Haha..
Belajar jadi ORANG JAHAT. Tapi, teman-teman kost menganggap saya selalu gagal! Bosan ketika orang-orang meminta bantuan dan menganggap saya bisa mengabulkan (apalagi pake rayuan plus-plus... Haha!) Hey, I’m just an ordinary man, bukan jin botol.. ;P
Berkeinginan untuk menjelajah wilayah SUMATRA dan PAPUA serta tinggal beberapa bulan di pedesaan EROPA, terutama Perancis, Jerman, Swiss, atau sekitarnya (kecuali Inggris dan Irlandia).
3 LAGU yang gak tau kenapa, bisa everlasting di playlist: “it’s Love” by Ryan Leslie, “Talk To Me” by Keri Noble, “Life” by Desree. Untuk Dave Koz, Jason Mraz, John Mayer mendapat tempat tersendiri.
Wednesday, January 21, 2009
Top 10 Indonesian Movies 2008

Sebenarnya gak sibuk-sibuk amat. Kerjaan juga seadanya (seperti sarapan saja!), tapi entah mengapa waktu magang ini menyita waktu-waktu yang lain. Yang utama terasa adalah waktu mengerjakan skripsi yang menjadi terlantar, waktu café to café yang semakin dipaksa masuk dalam agenda weekend meski badan beraroma kasur, waktu Wifian yang almost nothing digantikan dengan sentuhan e-mobile. Sebegitu berubahkah jika nanti saya benar-benar bekerja? Atau pekerjaan ini bukan pekerjaan yang enjoyable buat saya? Atau mungkin mental saya belum cukup buat bekerja? Ahh.. Pemikiran-pemikiran yang tidak jelas...
Yang jelas, awal tahun ini seperti biasanya saya akan sekilas mereview perfilman tanah air sepanjang tahun 2008. Sepertinya tren yang masih berlanjut adalah tren berlomba-lomba menciptakan ikon horor. Tercatat (yang saya catat, loh!) ada 18 film bergenre horor yang rilis tahun 2008. Sepertinya genre horor masih dianggap potensial untuk lahan panen uang oleh para produser Indonesia. Genre ini juga sepertinya tidak mau kalah di tahun ini. Hal ini diperkuat dengan munculnya salah satu judul horor yang tidak kalah bodohnya, yaitu Hantu Jamu Gendong. Selain horor, tren yang booming pasca Quickie Express adalah komedi slapstick yang banyak mengetengahkan seks sebagai bahan obralan. Sebanyak 16 judul film “panas” bebas ditayangkan di bioskop-bioskop tanah air. Saya sih bukan mempermasalahkan adegan panasnya, hanya saja pada cerita yang ala kadarnya membuat imej sang bintang menjadi murahan. Satu lagi yang lambat laun tapi menjadi tren adalah film antologi. Film yang terdiri dari beberapa sub plot cerita ini makin lama makin berisi dan diminati. Sepuluh adalah salah satu judul film antologi terbaru yang akan tayang Februari nanti.
Penghargaan kelas FFI juga sudah sangat jatuh kredibilitasnya. Banyak film kelas festival yang tidak mendaftar atau juga diblacklist karena ada pihak luar yang ikut campur dalam pembuatan. SO, LUPAKAN FFI! Nah, berikut 10 film Indonesia terbaik 2008 versi Teddiouzz:
Petikan AYAT-AYAT CINTA membuat segala lapisan masyarakat Indonesia berbondong memenuhi kursi bioskop. Mendobrak stagnasi dengan tema religius, film yang diangkat dari novel bestseller karya Habbiburahman El Shirazy ini mampu mengangkat nama Carrisha Putrie menjadi bintang bersinar tahun ini.
Film antologi karya 4 sutradara wanita, PEREMPUAN PUNYA CERITA mampu mengembangkan konflik-konflik yang berbeda di tiap kota. Perempuan sebagai subjek utama menjadikan film ini manis dan bernuansa feminis. Tapi, meskipun demikian, beberapa cerita dikembangkan dengan sudut pandang yang berbeda.
Tahun lalu, Upi kembali berkolaborasi dengan Vino Bastian dalam RADIT DAN JANI, film drama dengan nuansa street style ini mampu menggali skenarionya lebih dalam lagi ditambah dengan chemistry dua bintang utamanya dalam porsi yang seimbang.
Film hasil penyutradaraan novelis Djenar Maesa Ayu, MEREKA BILANG, SAYA MONYET menjadi sebuah film dengan suguhan sinematografi yang apik serta cerita yang kental dengan sastra. Berkat film ini, Titi Sjuman menjadi aktris pendatang yang patut diperhitungkan.
Pasukan LASKAR PELANGI juga menjadi primadona bioskop tahun lalu. Kisah bestseller novel Andrea Hirata tentang anak-anak Belitong dalam menggapai cita-citanya mampu menyampaikan sisi edukasi yang penting untuk generasi penerus bangsa. Mengingatkan dengan film edukasi yang lebih dulu muncul, Denias.
Antologi LOVE adalah cerita antologi yang lebih pop dibandingkan dengan antologi-antologi lainnya. Alm. Sophan Sophian dan Widyawati adalah yang paling dianggap berjasa menghidupkan film ini. Duet keduanya juga bercampur dengan duet-duet yang lain sehingga menghasilkan sebuah kesinambungan dalam skenario yang cukup matang.
Berpetualang dalam CINTA SETAMAN memang harus penuh dengan penghayatan. Sebuah antologi yang mampu mengemas sebuah perilaku menjadi hal yang patut dikaji ulang. Berbagai definisi keburukan dan kebaikan, atau bahkan tentang cinta menjadi hal yang penuh dengan daftar pertanyaan.
Kisah perempuan bernama MAY yang terpisah dengan keluarga pasca tragedi ‘rasisme’ warga Indonesia terhadap warga Tionghoa membuat kita sekilas kembali ke masa lalu. Pembakaran rumah, pemerkosaan, komersialisme, serta imigrasi mewarnai konflik-konflik yang ada. Sebuah tema yang mengesankan, meskipun terkesan lemah dalam endingnya.
Dangdut versus pesantren ala 3 DOA 3 CINTA mengembalikan duet favorit Indonesia, Dian Sastro dan Nicolas Saputra dalam satu adegan. Kisah urban yang santai namun sarat dengan fenomena kultural membuat film ini tampil berkesan meski kurang tenaga bercerita.
KARMA menjadi film horor yang saya anggap lebih mengandung magis tahun ini. Horor tidak selamanya memiliki seragam putih, make up putih, kontak lens, ataupun gigi taring dengan riasan darah atau bekas luka cabikan. Film ini meredefinisi ketakutan dengan efek suara yang mengagumkan, bukan mengagetkan.
Selamat mengkritik list ini atau mungkin juga setuju dengan saya. Saksikan juga list Moviouzz Awards 2009 di posting selanjutnya..
Selamat menonton film di tahun 2009. Semoga film Indonesia dapat menembus festival-festival film internasional lainnya..

